BRIN: Kalimantan Jadi Jembatan Migrasi Manusia dari Afrika Menuju Australia-Papua

Peta kawasan Paparan Sunda atau Sundaland – Foto BRIN


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Wilayah timur Paparan Sunda, khususnya Kalimantan, memegang posisi strategis jembatan migrasi manusia dari Afrika sejak 45.000 hingga 30.000 tahun lalu sebelum menuju wilayah Wallacea (Indonesia tengah) dan Sahul (Australia-Papua).

Hal ini terbukti dari temuan alat batu, sisa fauna, dan bukti hunian gua di sejumlah situs arkeologi di Kalimantan.

Jejak migrasi di Kalimantan ini diperkuat oleh riset Peneliti PR APS BRIN lainnya, Bambang Sugiyanto.

Hasil risetnya di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa kawasan tersebut kemungkinan besar menjadi jalur utama migrasi manusia prasejarah di pulau tersebut.

Hasil penelitiannya di sejumlah gua menemukan artefak berupa alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun.

"Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan," ujar dia, Rabu (3/6/2026).

Menurut Bambang, selain jalur migrasi, sejumlah gua di Pegunungan Meratus juga digunakan sebagai lokasi hunian, penguburan, dan aktivitas ritual masyarakat prasejarah.


Sungai Purba Jadi Jalur Migrasi Manusia Afrika ke Indonesia

BRIN mengungkap hasil penelitian yang menyebutkan jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda atau Sundaland kemungkinan besar menjadi jalur migrasi manusia modern awal (Homo sapiens) saat menduduki Asia Tenggara di masa prasejarah. Jaringan sungai purba raksasa yang kini tenggelam di bawah laut Indonesia itu diduga kuat menjadi 'jalur tol' utama pergerakan mereka. 

Selama ini, teori yang berkembang adalah coastal migration theory atau teori migrasi pesisir yang berasumsi bahwa manusia purba berpindah hanya melalui jalur pantai. Namun, riset geomorfologi dan paleogeografi membalikkan asumsi lama tersebut.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN Vida Pervaya Rusianti Kusmartono mengatakan hasil penelitian geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan Paparan Sunda pada masa Pleistosen memiliki sistem sungai besar yang kini telah tenggelam akibat kenaikan muka laut.

Menurut dia, jaringan sungai purba tersebut diperkirakan menjadi koridor ekologis yang mendukung penyebaran manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea.

"Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan," kata Vida.

Ia menjelaskan proses migrasi manusia modern dari Afrika menuju Asia Tenggara tidak berlangsung dalam satu gelombang tunggal, tapi melalui tahapan panjang dan jalur yang beragam.

Menurutnya, pada masa glasial penurunan muka air laut yang drastis menyatukan daratan Asia Tenggara menjadi paparan Sunda. Di daratan masif yang kini jadi dasar laut itulah, sistem sungai besar mengalir dan membentuk koridor ekologis menuju wilayah pedalaman Nusantara.

Sumber: cnnindonesia.com

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال