![]() |
| RAMAI: Suasana Rumah Anno yang diserbu oleh wisatawan lokal dan luar - Foto Dok Nett |
BORNEOTREND.COM, KALSEL- Rumah Anno di kawasan Siring Menara Pandang kini tak lagi sekadar menjadi bangunan cagar budaya yang dipandang dari kejauhan. Destinasi wisata ini menjelma menjadi ruang interaktif yang mengajak pengunjung merasakan langsung budaya Banjar, lengkap dengan balutan busana adat dan pelaminan tradisional yang menjadi favorit wisatawan.
Dalam beberapa pekan terakhir, gelak tawa, antrean pengunjung, dan kamera ponsel yang sibuk mengabadikan momen menjadi pemandangan baru di Rumah Anno. Baik warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah rela menunggu giliran demi merasakan sensasi menjadi “pengantin Banjar” sehari.
Inovasi wisata budaya tersebut merupakan program Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin sebagai bagian dari revitalisasi kawasan Siring Menara Pandang.
Kepala Disbudporapar Kota Banjarmasin Ibnu Sabil, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya dinikmati dengan melihat bangunan bersejarah, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan budaya lokal.
“Saat ini Rumah Anno sudah dibuka dengan dua akses pintu. Kami juga menyiapkan fasilitas pakaian pengantin adat Banjar yang bisa dipakai pengunjung untuk berswafoto, lengkap dengan latar pelaminan khas Banjar,” ujarnya, Minggu (5/7/2026) lalu.
Tidak hanya busana adat Banjar, Disbudporapar Kota Banjarmasin juga menggandeng pihak ketiga untuk menyediakan pakaian adat Dayak sehingga pilihan bagi pengunjung menjadi lebih beragam.
Menurut dia, kerja sama tersebut dilakukan karena koleksi pakaian adat milik pemerintah masih terbatas.
“Karena jumlah pakaian yang kami miliki masih terbatas, kami bekerja sama dengan pihak ketiga. Jadi selain pakaian adat Banjar, tersedia juga pakaian adat Dayak yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk mengabadikan momen di Rumah Anno,” katanya.
Menariknya, hingga saat ini penggunaan pakaian adat yang disediakan Disbudporapar Kota Banjarmasin masih dapat dinikmati secara gratis. Kebijakan tersebut berlaku karena Peraturan Daerah mengenai tarif retribusi masih dalam tahap pembahasan.
“Berhubung Perda mengenai tarifnya masih digodok, untuk pakaian adat yang kami sediakan saat ini masih gratis. Kalau menggunakan milik pihak ketiga, tentu ada biaya sewanya,” jelasnya.
Program yang baru berjalan sekitar tiga pekan itu ternyata mendapat respons di luar perkiraan. Antrean pengunjung hampir selalu terlihat, terutama saat sore hingga malam hari pada akhir pekan.
Momentum libur sekolah turut mendongkrak jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Siring Menara Pandang.
Menurut dia, banyak pengunjung datang bukan hanya menikmati panorama Sungai Martapura, tetapi juga ingin membawa pulang pengalaman unik mengenakan pakaian adat Banjar.
“Alhamdulillah, pelaksanaannya baru sekitar tiga minggu, tetapi antusias masyarakat luar biasa. Banyak pengunjung yang rela mengantre. Ternyata kehadiran pakaian adat ini memang menjadi harapan mereka, baik warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah,” ungkapnya.
Melihat tingginya minat masyarakat, Disbudporapar Kota Banjarmasin memperpanjang jam pelayanan hingga malam hari, khususnya setiap akhir pekan, agar lebih banyak wisatawan dapat menikmati fasilitas tersebut.
“Rumah Anno kini menjadi salah satu lokus wisata Kota Banjarmasin. Karena antusias pengunjung sangat tinggi, kami tetap membuka pelayanan hingga malam hari, terutama saat akhir pekan,” tutupnya.
Sumber: langkar.id

