![]() |
| ISI PERTALITE: Warga pengendara sepeda motor mengisi BBM bersubsidi jenis Pertalite di SPBU – Foto detik.com |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Pemerintah mewacanakan untuk membatasi pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite.
Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha, mengungkapkan pembatasan itu tertuang dalam revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.
“BBM, Pertalite, Solar, terserah nanti kalau Perpres 191 itu yang sudah didiskusikan juga kemarin di DEN dengan Patra Niaga itu bisa kita realisasikan, kita batasi,” kata Satya dalam sarasehan energi yang disiarkan daring Youtube Dewan Energi Nasional, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, pembatasan nantinya tetap berlaku meski Pertalite masih berstatus barang subsidi. Pemerintah mempertimbangkan pengaturan berdasarkan kapasitas mesin kendaraan dan jenis kendaraan pengguna.
Menurut hitungan DEN, skema pembatasan tersebut bisa menghemat konsumsi BBM subsidi sekitar 10-15% dibanding volume saat ini.
“Kalau berdasarkan CC dan jenis kendaraan itu potensi hematnya itungan kami itu 10-15% daripada volume,” ujarnya.
Tak hanya BBM, pemerintah juga menyiapkan perubahan pola subsidi LPG 3 kg. Subsidi nantinya diarahkan berbasis penerima manfaat dengan menggunakan data P3KE dan DTKS agar lebih tepat sasaran.
Selain pengetatan subsidi, DEN juga menyoroti pentingnya efisiensi energi dari sisi konsumsi. Langkah yang disiapkan antara lain percepatan elektrifikasi transportasi, penguatan transportasi publik, hingga audit energi untuk industri besar.
Satya menilai digitalisasi jaringan listrik dan penerapan smart grid oleh PLN juga dapat menekan losses atau kehilangan energi listrik sehingga biaya pokok penyediaan listrik bisa ditekan.
Di sisi pasokan energi, pemerintah disebut mendorong optimalisasi domestic market obligation (DMO) batu bara dan gas untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional. Pemerintah juga menyiapkan implementasi biodiesel B50 untuk memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus menjaga ekspor sawit Indonesia tetap kompetitif.
“Sawit itu menjadi komoditas unggulan kita,” kata Satya.
Sumber: liputan6.com

