Harga Minyak Dunia Turun, Pakar UGM Sebut Harga Pertamax Harus Turun

ISI BBM: Pengendara sepeda motor mengisi BBM Pertamax di SPBU – Foto Antara


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Hingga kini Pertamina Patra Niaga belum menurunkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax, padahal harga tiga BBM nonsubsidi lainnya yakni Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex telah diturunkan per 1 Juli 2026 seiring turunnya harga minyak dunia. Saat ini harga Pertamax masih bertahan di Rp 16.250.

Pakar Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan, penurunan harga minyak dunia mestinya diikuti dengan penyesuaian harga Pertamax.

"Jadi ketika harga minyak dunia turun bahkan mendekati ICP (Indonesian Crude Price) yang 70 juta dollar Amerika per barel itu maka konsekuensinya memang pemerintah harus menurunkan harga nonsubsidi. Kalau mengacu pada harga minyak dunia, mestinya Pertamax sudah kembali ke harga awal," katanya dikutip dari Kompas.com, Kamis (2/7/2026).

Fahmy mengatakan, memang agak sulit bila Pertamax yang baru naik langsung diturunkan begitu saja. Kenaikan harga Pertamax pada Juni lalu, dari harga Rp 12.300 menjadi Rp 16.250.

"Karena untuk menurunkan harga yang baru naik, itu butuh perhitungan modal dan besaran ulang. Sehingga memang agaknya mungkin tidak bisa diturunkan dalam waktu dekat. Tetapi kalau diturunkan, sebenarnya efektif buat masyarakat," Kata dia.

Fahmy mengatakan, penurunan ketiga BBM sebelumnya itu belum berdampak besar.

Karena ketiga BBM ini punya RON dan CN tinggi, sehingga hanya cocok untuk kendaraan dengan performa tinggi atau kendaraan dengan harga yang cukup mahal.

"Kan jenis bahan bakar itu cocoknya mobil tertentu dan mahal. Jadi ya targetnya kelas menengah ke atas. Mereka yang merasakan," kata dia.

Perlu diketahui, Pertamax Turbo memiliki Research Octane Number (RON) 98, Pertamina Dex punya Cetane Number (CN) 53 dan Dexlite dengan CN 51.

Sementara untuk Pertamax, memiliki RON 92 dan penggunanya kebanyakan kelas menengah. Termasuk juga driver ojol yang menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.

Dari jumlahnya saja, kata Fahmy, kelas menengah itu sangat besar dibanding kelas atas.

Sehingga saat ada penurunan BBM yang itu bukan Pertamax, jelas tak berdampak besar bagi kelas menengah.

"Itu sebabnya, kelas menengah justru bermigrasi ke jenis BBM subsidi yaitu Pertalite. Kalau ada migrasi ini, bebannya bertambah," tambah pakar asal Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Saat terjadi migrasi konsumen ke Pertalite, dampaknya kuota Pertalite harus ditambah sehingga beban fiskal juga semakin besar. 

"Maka itu sangat disayangkan Pertamax tidak diturunkan. Terlepas apakah sesuai dengan harga keekonomian, saya kira kebijakan ini kurang tepat. Masyarakat tidak mungkin berpindah ke tiga BBM yang diturunkan, kecil sekali kemungkinannya," terangnya.

Fahmy mengatakan penurunan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite tidak langsung menahan laju inflasi. Karena konsumen ketiga jenis BBM tersebut tidak sebanyak Pertamax apalagi Pertalite. Penekan inflasi, kata dia, justru dari konsumen Pertamax dan Pertalite. 

"Karena salah satu pertumbuhan ekonomi disumbang oleh konsumi, terutama kelas menengah," imbuhnya.

Sebelumnya, harga BBM yang turun adalah Pertamax Turbo turun dari Rp 20.750 menjadi Rp 19.300, Pertamina Dex turun dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150, dan Dexlite turun dari Rp 23.000 menjadi Rp 21.150.

Selain harga BBM ini, Pertamina menurunkan harga avtur untuk penerbangan domestik rata-rata sebesar 14 persen. Sehingga dari harga Rp22.190 per liter turun menjadi Rp19.190 per liter.

Sumber: Kompas.com

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال