![]() |
Ilustrasi pegawai bank memperlihatkan mata uang rupiah dan dolar AS – Foto Antara |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara IHSG dapat turun ke level kritis 4.900 akibat kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani pasar keuangan Indonesia.
Perkiraan ini disampaikan analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi dan menurutnya tekanan terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut hingga akhir Juni 2026.
Diketahui hingga Senin (8/6/2026) pukul 10.03 WIB, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 18.156, dan IHSG di level 5.434.
"Saat ini rupiah dibuka melemah cukup tajam di Rp 18.100 kemudian IHSG juga mengalami penurunan hampir 2,92%. Ada kemungkinan besar rupiah di kondisi Rp 19.000 di akhir bulan ini," ungkap Ibrahim kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Dari faktor atau sisi eksternal, memanasnya geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara AS dan Iran serta konflik Israel-Palestina, mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
Di saat yang sama, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga memicu aliran dana keluar dari negara berkembang. Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi dan berpotensi memperlebar defisit anggaran serta neraca berjalan. Tekanan inflasi juga diperkirakan meningkat sepanjang Juni.
Sentimen negatif turut datang dari kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perubahan status pasar modal Indonesia oleh MSCI. Meski pengumuman baru akan dilakukan pertengahan Juni, isu tersebut dinilai telah memicu tekanan terhadap rupiah dan IHSG.
Selain itu, arus keluar modal asing semakin besar di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan anggaran untuk berbagai program pemerintah, termasuk subsidi bahan bakar yang sangat dipengaruhi pergerakan dolar AS dan harga minyak dunia.
Ibrahim mengungkapkan, dengan berbagai sentimen tersebut, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Diketahui, sejumlah angka perihal kondisi ekonomi di Tanah Air terancam tak sesuai buku asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026. Diketahui salah satu contohnya, rupiah harus berada di sekitar level Rp 16.500 per dolar AS.
Sementara Indonesia Crude Price (ICP) berada di level US$ 70 per barel. Sementara, rata-rata minyak dunia kini di level lebih dari US$ 90 per barel.
"Kita harus tahu bahan bakar yang disubsidi membutuhkan dolar yang cukup besar. Diketahui dolar kan di APBN Rp 16.500 di APBN dan minyak US$ 70. Sekarang sudah di angka berapa?" pungkasnya.
Sumber: beritasatu.com

