![]() |
| ISI BBM: Petugas SPBU mengisi BBM Pertamax ke mobil pelanggan – Foto Antara |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi meminta pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi sejalan dengan turunnya harga minyak dunia. Menurut dia, harga BBM non-subsidi yang belakangan naik tajam sudah dapat diturunkan.
"Kemungkinan besar ini masih akan terus berlanjut pada Juli. Dan pemerintah wajib menurunkan harga BBM non-subsidi, terutama Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, dan lain-lain. Karena harga minyak dunia sudah berada di bawah asumsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), yakni 70 dolar AS per barel," jelasnya, Kamis (25/6/2026).
Menurut prediksinya, pemerintah akan menurunkan harga BBM non-subsidi dalam waktu sekitar lima hari ke depan.
Seperti diketahui, harga minyak dunia pada perdagangan Kamis (25/6/2026) mengalami penurunan seiring dibukanya Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Merosotnya harga minyak dunia diprediksi akan mendorong penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi setelah sebelumnya sempat melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Transportasi minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz sebesar 20 persen saat ini sudah kembali normal. Sehingga bersamaan dengan dibukanya Selat Hormuz, transportasi berjalan lancar dan membuat harga minyak mentah mengalami penurunan yang cukup signifikan," kata Ibrahim.
Terpantau, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Adapun harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 4 persen ke level sekitar 73 dolar AS per barel.
Harga minyak mentah dunia sebelumnya melambung tinggi di tengah konflik Timur Tengah hingga menembus 120 dolar AS per barel. Seiring langkah gencatan senjata antara AS dan Iran serta dibukanya Selat Hormuz, harga minyak pun mulai mereda.
"Apalagi kita melihat bahwa saat ini terjadi oversupply. Bahkan di pasaran harga minyak mentah dunia ada yang dijual 10 dolar AS per barel. Artinya, oversupply cukup besar. Produksi yang sebelumnya 103,1 juta barel per hari saat ini menjadi 103,3 juta barel per hari. Sedangkan permintaan yang tadinya 100 juta barel per hari turun menjadi di bawah 100 juta barel per hari," terangnya.
Ibrahim memprediksi seiring kondisi tersebut harga minyak mentah akan terus mengalami penurunan. Bahkan, pada pekan depan harganya berpotensi menyentuh level 65 dolar AS per barel.
Purbaya Optimistis Harga BBM Nonsubsidi Turun
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi menurun seiring pergerakan harga minyak dunia.
“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan makin kuat,” kata Purbaya.
Purbaya menjelaskan perekonomian global mendapat harapan dari terbukanya peluang perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Bila perdamaian itu terwujud, kata Purbaya, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat membaik, biaya dana (cost of fund) makin kompetitif, dan investasi terus menguat.
“Artinya momentum pertumbuhan seharusnya membaik ke depan. Karena kita tahu, salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan,” ujarnya.
Ia mengakui perubahan harga BBM nonsubsidi tersebut memberikan tekanan kepada masyarakat. Namun, menurut dia, data-data ekonomi yang terlihat saat ini menunjukkan arah perbaikan. “Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal,” jelasnya.
Menkeu berharap peluang perdamaian antara AS dan Iran dapat menurunkan harga minyak dunia sehingga Indonesia bisa mencetak kinerja ekonomi yang lebih positif pada semester II 2026. Adapun pada paruh pertama 2026, Purbaya menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ekonomi global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, inflasi tetap terjaga pada level rendah, neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, cadangan devisa berada pada level yang memadai, penyaluran kredit tumbuh dua digit, dan sektor manufaktur kembali berada dalam zona ekspansif.
Situasi itu, kata dia, mengindikasikan kepercayaan pasar mulai meningkat.
Sumber: republika.co.id

