![]() |
Ilustrasi warga memenuhi pameran mobil – Foto bisnis.com |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Harga mobil dalam waktu dekat akan naik menyusul pertimbangan pelaku industri otomotif nasional untuk melakukan penyesuaian harga di tengah meningkatnya tekanan biaya yang berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga, hingga lonjakan harga BBM.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, sejumlah agen pemegang merek (APM) berpotensi menaikkan harga kendaraan dalam waktu dekat.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan biaya yang dipicu oleh kurs rupiah yang masih melemah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
“Ada kemungkinan bulan Juni ini sebagian anggota mungkin perlu melakukan penyesuaian harga karena pengaruh nilai tukar rupiah,” ujar Kukuh dikutip dari Bisnis.com, dikutip Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, pelemahan kurs rupiah memberikan tekanan langsung terhadap biaya produksi kendaraan. Pasalnya, industri otomotif nasional masih mengandalkan impor berbagai komponen dan bahan baku yang transaksinya menggunakan mata uang asing.
Di samping faktor kurs, industri otomotif juga menghadapi tantangan lain yang berpotensi memengaruhi permintaan kendaraan.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5% dinilai dapat memengaruhi minat masyarakat untuk membeli kendaraan melalui skema pembiayaan.
"Suku bunga naik juga menjadi faktor penting. Sekitar 70% pembelian mobil dilakukan melalui kredit. Ketika bunga kredit naik, konsumen tentu akan berpikir ulang apakah akan membeli kendaraan sekarang atau menunda pembelian," jelasnya.
Tekanan terhadap pasar semakin bertambah setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Pada saat yang sama, harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Kondisi tersebut membuat pelaku industri berada dalam posisi yang tidak mudah.
Di satu sisi, kenaikan biaya operasional dan produksi mendorong perlunya penyesuaian harga. Namun di sisi lain, kenaikan harga kendaraan berisiko mengurangi daya tarik pasar dan menekan penjualan.
“Kalau harga tidak dinaikkan, beban biaya cukup berat. Namun, kalau dinaikkan, potensi konsumennya juga bisa berkurang. Jadi situasinya memang tidak mudah,” kata Kukuh.
Meski dibayangi berbagai tantangan, pasar otomotif nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan positif sepanjang lima bulan pertama tahun ini.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan wholesales atau distribusi kendaraan dari pabrikan ke dealer mencapai 359.015 unit pada Januari-Mei 2026, meningkat 12,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penjualan ritel atau distribusi kendaraan dari dealer kepada konsumen mencapai 359.490 unit atau tumbuh 8,8% secara tahunan.
Kinerja tersebut menjadi salah satu alasan Gaikindo masih mempertahankan target penjualan mobil nasional sebesar 850.000 unit hingga akhir 2026.
Kendati demikian, keberhasilan mencapai target tersebut akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sejumlah faktor eksternal, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah, arah suku bunga, serta kondisi daya beli masyarakat pada paruh kedua tahun ini.
Sumber: bisnis.com

