![]() |
BELANJA MINUMAN: Seorang pengunjung berbelanja minuman kemasan di salah satu pusat perbelanjaan - Foto cnbcindonesia.com |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Bagi Anda penggemar minuman kemasan, siap-siap untuk merogoh kocek lebih banyak. Pasalnya, produsen minuman di Indonesia akan menaikkan harga produk mereka menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Indonesia (ASRIM), Tri Junanto Wicaksono menjelaskan, pelemahan rupiah di level tersebut secara langsung akan meningkatkan biaya produksi. Pasalnya, industri ini masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan impor.
"Sehingga bahan baku kita juga akan naik, biaya produksi COGM (cost of good manufactured) kita juga pasti akan naik gitu. Jadi pasti mempengaruhi dengan biaya operasional perusahaan juga," ujar dia di sela acara konferensi pers Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Melihat kondisi tersebut, para pelaku usaha minuman siap saji nasional berupaya mengurangi ketergantungan pada impor dengan memanfaatkan sumber lokal. Akan tetapi, pada faktanya bahan baku yang berasal dari dalam negeri masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri secara keseluruhan. Mengingat, terdapat standarisasi tertentu yang perlu dipenuhi oleh pelaku usaha.
Pria yang juga menjabat sebagai Director of Corporate Affairs & Legal at PT Amerta Indah Otsuka tersebut menjelaskan, saat ini para pelaku usaha terus melakukan efisiensi terhadap biaya produksi sembari mengembangkan sumber lokal yang sesuai dengan standar perusahaan.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo mengatakan, kondisi kurs rupiah saat ini memang tergolong unik. Dengan kata lain, ada penurunan yang kurang lebih sekitar 90% dari awal tahun.
"Tentunya kembali ini sesuatu ranah pemerintah adalah bagaimana pemerintah bisa menjaga, jangan sampai kurs ini menjadi penurunan terlalu dalam. Karena itu akan berpengaruh kepada bahan baku," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, ada potensi harga produk minuman di tingkat ritel akan naik. Sebab, bahan baku industri minuman terutama non AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) masih impor. Sebut saja gula rafinasi, garam, peningkat rasa, hingga lainnya.
"Mau gak mau pasti ada karena sekarang aja dari sisi selisih kursusnya ada kurang lebih sekitar 90%-an kan dalam konteks sekarang Dengan dibanding awal tahun," sebutnya.
Sumber: cnbcindonesia.com

