![]() |
Ilustrasi penutupan program studi (prodi) di berbagai kampus – Foto monitorday.com/AI |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Sepanjang tahun 2026 sejumlah program studi (prodi) di berbagai kampus, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) telah ditutup.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat terdapat 122 program studi yang resmi ditutup sepanjang tahun 2026. Seluruh penutupan tersebut dilakukan berdasarkan usulan dari perguruan tinggi penyelenggara, bukan keputusan sepihak pemerintah.
Dari ratusan program studi yang ditutup tersebut, terdapat 8 jurusan yang paling banyak dihentikan penyelenggaraannya. Menariknya, sebagian besar berasal dari program diploma atau pendidikan vokasi yang mengalami penyesuaian seiring perubahan kebutuhan industri dan strategi pengembangan kampus.
Berikut Daftar Prodi yang Paling Banyak Ditutup Sepanjang 2026:
Berdasarkan paparan Kemdiktisaintek, terdapat delapan program studi yang menjadi jurusan dengan jumlah penutupan terbanyak pada 2026.
1. D-3 Kebidanan
Program diploma tiga kebidanan menjadi salah satu jurusan yang paling banyak ditutup pada tahun ini, yakni mencapai 16 lokasi penyelenggaraan.
Perubahan kebutuhan tenaga kesehatan serta penyesuaian standar pendidikan di bidang kesehatan menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan program studi ini.
2. D-3 Manajemen Informatika
Selama bertahun-tahun, D-3 manajemen informatika menjadi salah satu pilihan populer di bidang teknologi informasi.
Namun, perkembangan industri digital yang semakin kompleks membuat sejumlah perguruan tinggi mulai mengalihkan fokus pada program studi teknologi dengan cakupan yang lebih luas dan sesuai kebutuhan saat ini.
3. D-3 Akuntansi
Program D-3 akuntansi juga termasuk dalam daftar program studi yang paling banyak dihentikan penyelenggaraannya.
Meski bidang akuntansi masih dibutuhkan di dunia kerja, sejumlah kampus melakukan penyesuaian terhadap jenjang maupun bentuk program pendidikan yang ditawarkan.
4. D-3 Teknik Komputer
D-3 teknik komputer menjadi salah satu program vokasi yang turut terdampak perubahan kebutuhan industri teknologi.
Banyak perguruan tinggi mulai mengembangkan program baru yang lebih relevan dengan perkembangan kecerdasan buatan, data, dan transformasi digital.
5. S-1 Manajemen Retail
Program S-1 manajemen retail juga masuk dalam kelompok jurusan yang paling banyak ditutup sepanjang 2026.
Perubahan pola bisnis serta pesatnya perkembangan perdagangan digital mendorong sejumlah kampus melakukan evaluasi terhadap keberlanjutan program studi ini.
6. D-3 Keuangan dan Perbankan
Meskipun sektor keuangan masih menawarkan prospek karier yang luas, beberapa perguruan tinggi memilih melakukan restrukturisasi maupun penggabungan program studi yang memiliki rumpun keilmuan serupa.
Karena itu, D-3 keuangan dan perbankan turut masuk dalam daftar program studi yang paling banyak ditutup tahun ini.
7. D-3 Keperawatan
Selain kebidanan, D-3 keperawatan juga menjadi salah satu jurusan yang banyak dihentikan penyelenggaraannya.
Perubahan kebijakan pendidikan tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor yang kerap memengaruhi keberlangsungan program studi ini di berbagai kampus.
8. S-1 Matematika
Program S-1 matematika tercatat masuk dalam kelompok program studi yang paling banyak ditutup pada 2026.
Meski demikian, bidang matematika tetap memiliki peran penting sebagai dasar berbagai disiplin ilmu, termasuk teknologi, data, dan keuangan.
Bahkan dalam beberapa kasus, kampus memilih mengembangkan program studi baru seperti Aktuaria yang memiliki keterkaitan erat dengan matematika dan kebutuhan industri.
Penutupan Atas Permintaan Perguruan Tinggi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa penutupan program studi dilakukan atas usulan badan penyelenggara, baik PTN maupun PTS.
"Jadi beberapa ada yang karena mahasiswanya berkurang atau mereka ingin mengganti menjadi program studi yang lebih atraktif. Seperti misalnya sebelumnya matematika menjadi aktuaria begitu ya. Karena ketika lulusan aktuaria mereka fokus pelajarannya lebih banyak yang nantinya dibutuhkan oleh industri," ucap Brian Yuliarto dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Selasa (2/6/2026), dikutip dari siaran kanal YouTube TVR Parlemen, Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penutupan program studi umumnya berkaitan dengan evaluasi internal kampus. Faktor seperti jumlah mahasiswa yang menurun, kebutuhan dunia kerja, hingga rencana pembukaan program baru yang dinilai lebih relevan menjadi pertimbangan utama.
Brian Yuliarto juga menegaskan bahwa isu mengenai penutupan program studi untuk menyesuaikan kebutuhan industri masa depan bukan merupakan kebijakan Kemdiktisaintek.
"Terkait dengan isu yang kemudian berkembang bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi akan melakukan penutupan program studi untuk penyesuaian dengan industri yang akan berkembang di masa depan, kami dapat menyampaikan bahwa hal tersebut tidak menjadi kebijakan kami," ujar Brian Yuliarto.
Dengan demikian, seluruh penutupan program studi yang terjadi pada 2026 merupakan bagian dari kebijakan masing-masing perguruan tinggi berdasarkan evaluasi dan kebutuhan institusi.
Penutupan Prodi Bukan Berarti Bidang Ilmunya Tidak Dibutuhkan
Penutupan program studi tidak serta-merta menunjukkan bahwa bidang ilmu tersebut kehilangan relevansi. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut merupakan bagian dari evaluasi kampus terhadap efektivitas penyelenggaraan pendidikan, jumlah peminat, kebutuhan industri, hingga strategi pengembangan institusi.
Fenomena ini juga bukan hal baru dalam dunia pendidikan tinggi. Seiring perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja, perguruan tinggi secara berkala melakukan penyesuaian terhadap jurusan yang dianggap perlu direstrukturisasi atau dikembangkan ke arah baru.
Menariknya, dari daftar program studi yang paling banyak ditutup sepanjang 2026, tidak terdapat jurusan kependidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penutupan lebih banyak terjadi pada program vokasi maupun bidang tertentu yang mengalami perubahan tren peminatan.
Apa yang Perlu Diperhatikan Calon Mahasiswa?
Daftar program studi yang paling banyak ditutup pada 2026 dapat menjadi salah satu gambaran mengenai dinamika pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, calon mahasiswa tidak sebaiknya hanya mempertimbangkan popularitas jurusan ketika menentukan pilihan kuliah.
Memahami kebutuhan industri, perkembangan kebijakan pendidikan, serta prospek jangka panjang suatu bidang ilmu menjadi langkah penting sebelum memilih program studi. Dengan pertimbangan yang matang, pilihan jurusan dapat lebih sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan masa depan.
Sepanjang 2026, sebanyak 122 program studi resmi ditutup atas usulan perguruan tinggi penyelenggaranya. Kemdiktisaintek menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan merupakan penutupan yang dilakukan pemerintah, melainkan hasil evaluasi masing-masing kampus.
Sumber: beritasatu.com

