![]() |
Ilustrasi – Mata uang dolar AS dan rupiah – Foto Net |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi berpotensi menembus posisi Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, rupiah mengalami tekanan pada momen libur nasional Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026). Kondisi itu terutama dipengaruhi faktor konflik di Timur Tengah yang kembali memanas.
“Pada saat libur Paskah ini, Kamis dan Jumat memang suatu ujian bagi Indonesia. Kita melihat pada saat libur dua hari ini, ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas, terutama di Selat Hormuz antara AS dan Iran,” kata Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Ia menerangkan, latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran di Selat Hormuz telah menimbulkan ketegangan bagi AS. Selain itu, situasi tersebut juga berdampak terhadap negara-negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Arab Saudi. Di samping itu, dikabarkan saat perang terjadi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi UEA dan Arab Saudi. Hal itu juga menciptakan ketegangan tersendiri.
“Walaupun ini sudah dibantah oleh negara-negara tersebut, tetapi indikasi ini kuat sekali bagi intelijen bahwa ada pergerakan-pergerakan kerja sama antara Israel dengan negara-negara di Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan UEA,” terangnya.
Ibrahim melanjutkan, konflik di Selat Hormuz juga memanas setelah kapal kargo India dari Afrika menuju UEA tenggelam pada Rabu di perairan lepas pantai Oman. Belum terungkap dalangnya sehingga hal ini juga menjadi ketegangan tersendiri di Timur Tengah.
Sejumlah kapal juga dikabarkan ditahan Iran setelah negara tersebut melakukan latihan perang besar-besaran. Lagi-lagi, ketegangan di Timur Tengah makin meningkat.
Tak hanya faktor ketegangan di Timur Tengah, Ibrahim menuturkan ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve juga menjadi salah satu faktor penyebab pelemahan rupiah. Di tengah harga gasoline yang mengalami kenaikan, kondisi itu diprediksi akan mengerek inflasi di AS.
“Ada kemungkinan besar pada 2026 Bank Sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga. Hal itu mengindikasikan suku bunga lebih tinggi akan berdampak pada penguatan indeks dolar AS, apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti,” terangnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di China untuk membahas masalah perang dagang dan persoalan Timur Tengah. Dalam pertemuan itu, Jinping meminta agar AS tidak ikut campur dalam masalah Taiwan. Jika ikut campur, hal itu akan berdampak terhadap hubungan bilateral AS-China.
AS sendiri juga mengatakan tanpa bantuan dari China siap melumat pasukan Iran yang ada di Selat Hormuz. Hal itu membuat situasi makin memanas, apalagi sebelum Trump berangkat ke China, AS telah memberikan sanksi terhadap individu dan perusahaan dari China, Hong Kong, UEA, dan Oman yang membantu penyaluran transportasi minyak untuk China.
Dalam pertemuan para pejabat AS dan China tersebut, dikabarkan muncul narasi agenda besar China membantu Iran dalam masalah persenjataan. Iran akan menyelamatkan transportasi impor minyak mentah yang selama ini menjadi salah satu sumber impor minyak China.
“Nah, ini yang secara geopolitik dan eksternal membuat dolar mengalami penguatan, harga minyak naik, kemudian rupiah melemah,” terangnya.
Sementara itu, di dalam negeri, Ibrahim menuturkan Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional pada momen dua hari libur nasional Kamis dan Jumat.
“Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional begitu luar biasa dampaknya. Dan BI terus melakukan intervensi. Kita lihat tadi pagi di Rp 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp 17.600, artinya BI benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional,” tutur Ibrahim.
Sentimen internal lainnya yakni soal permasalahan defisit anggaran akibat peningkatan harga minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap anggaran subsidi pemerintah.
“Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah menjadi salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah. Apalagi dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor, 85 persen adalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk masyarakat sehingga kebutuhan dolar cukup tinggi dan ini berdampak negatif terhadap mata uang rupiah,” jelasnya.
Ibrahim menuturkan, berdasarkan analisisnya, nilai tukar rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan yang cukup dalam. Bahkan, berdasarkan perkiraan, Mata Uang Garuda bisa menembus hingga Rp 18.000 per dolar AS pada bulan ini.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 per dolar AS akan tembus. Kalau seandainya Rp 18.000 tembus di bulan Mei ini, kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp 22.000 per dolar AS,” ungkapnya.
Menurut dia, untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah, BI perlu menaikkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026.
“Cara satu-satunya ada kemungkinan besar BI akan menaikkan suku bunga, bisa saja 25 basis poin sampai 50 basis poin. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim.
Sumber: republika.co.id

