![]() |
Ilustrasi anak menangis saat ingin disuntik imuniasi – Foto alomedika.com |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Masih ada sekitar 2,3 juta anak di Indonesia yang masuk kategori zero dose atau belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
Kondisi ini disebut menjadi salah satu penyebab munculnya kembali kejadian luar biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penurunan cakupan imunisasi sempat terjadi saat pandemi Covid-19 karena layanan kesehatan lebih fokus menangani pandemi.
"Akibatnya memang terjadi beberapa tahun kemudian. Salah satu di antaranya adalah KLB campak yang terjadi beberapa waktu yang lalu," ujar Dante dalam kujungan lapangan tematik "Mengejar Anak Zero Dose Kota Bandung, Jawa Barat", Selasa (12/5/2026).
Dante mengatakan, anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi menjadi tidak terlindungi dari berbagai penyakit menular seperti campak, polio, maupun DPT.
Ia juga menyoroti maraknya hoaks soal vaksin yang membuat sebagian orang tua takut mengimunisasi anaknya. Salah satu hoaks yang sempat ramai adalah tudingan vaksin menyebabkan autisme.
"Ternyata studi empiris yang kita lakukan, jutaan orang di seluruh dunia tidak pernah menimbulkan efek samping autis," kata Dante.
Selain itu, isu keagamaan juga disebut masih menjadi tantangan. Dante menjelaskan, vaksin campak yang sempat dipersoalkan telah melalui proses pemurnian dan dinyatakan aman serta halal.
"Sudah diuji oleh MUI, vaksin itu sudah sama sekali tidak mengandung unsur yang berasal dari tripsin babi tersebut," ujarnya.
Dante menegaskan imunisasi bukan hanya melindungi satu anak, tetapi juga membangun kekebalan komunitas agar penyakit menular tidak kembali merebak.
"Kalau ada satu orang saja yang tidak imunisasi maka kita tidak bisa mengeliminasi atau memberantas penyakit tertentu di wilayah tersebut," katanya.
Sumber: cnbcindonesia.com

