BORNEOTREND.COM, KALSEL- Pelatihan Kepemimpinan Pemuda “Menyala 2026” yang digelar pada 21–23 April 2026 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin menjadi ajang strategis dalam meningkatkan kapasitas generasi muda, khususnya dalam hal kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan mengelola konflik di tengah masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh pengurus KNPI dan perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) Hulu Sungai Tengah (HST) ini menghadirkan Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) HST Yajid Fahmi AS, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya negosiasi dan manajemen konflik sebagai keterampilan dasar yang harus dimiliki pemuda.
Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Konflik bisa muncul dari berbagai persoalan, seperti sengketa lahan, pelayanan publik, bantuan sosial, hingga dinamika organisasi dan lingkungan sosial.
“Perbedaan itu tidak bisa dihindari. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya. Konflik bukan untuk diperbesar, tetapi untuk dikelola agar menghasilkan solusi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa negosiasi adalah proses komunikasi antara dua pihak atau lebih untuk mencari kesepakatan atas perbedaan kepentingan. Sementara konflik merupakan kondisi pertentangan pendapat, nilai, maupun kebutuhan antar pihak.
“Negosiasi bukan tentang siapa yang menang, tetapi bagaimana semua pihak dapat menerima jalan keluar yang disepakati bersama. Di situlah kunci keharmonisan,” tegasnya.
Dalam materi yang disampaikan dirinya juga menguraikan sejumlah penyebab konflik yang sering terjadi di masyarakat, di antaranya kurangnya komunikasi, perbedaan kepentingan, informasi yang tidak jelas atau hoaks, munculnya rasa ketidakadilan, serta lemahnya budaya musyawarah.
Ia menilai, banyak konflik kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan sejak awal, namun menjadi besar karena tidak adanya komunikasi yang baik antar pihak.
Untuk itu, ia mengajak para peserta pelatihan untuk menerapkan prinsip-prinsip negosiasi yang efektif, seperti mendengarkan sebelum membantah, memisahkan persoalan dari individu, serta menggunakan data dan aturan sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Selain itu, penting juga untuk mencari kepentingan bersama dengan tujuan menciptakan kondisi masyarakat yang aman, tertib, adil, dan damai. Hasil dari negosiasi pun harus berupa kesepakatan yang jelas dan dapat dilaksanakan.
Dirinya juga memaparkan tahapan dalam manajemen konflik yang meliputi identifikasi masalah, mendengarkan semua pihak secara berimbang, memetakan kepentingan, mencari alternatif solusi, hingga membuat dan memantau kesepakatan bersama.
“Konflik tidak selesai hanya dengan kesepakatan. Harus dipastikan kesepakatan itu benar-benar dijalankan agar tidak menimbulkan persoalan baru,” jelasnya.
Dalam situasi konflik, ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang menenangkan dan tidak memancing emosi. Menurutnya, komunikasi yang tepat dapat meredam ketegangan, sementara ucapan yang keliru justru bisa memperkeruh keadaan.
Lebih lanjut dirinya menegaskan bahwa pencegahan konflik merupakan tanggung jawab bersama, baik masyarakat, pemerintah daerah, maupun DPRD. Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, serta mengedepankan musyawarah dalam setiap persoalan.
“Pencegahan konflik dimulai dari sikap bijak setiap individu. Pemuda harus menjadi contoh dalam menjaga suasana yang kondusif di lingkungan masing-masing,” katanya.
Melalui Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Menyala 2026 ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu menjaga keharmonisan sosial serta menjadi penengah dalam setiap konflik yang terjadi di masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bupati HST Samsul Rizal, perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), serta jajaran Disporabudparekraf HST.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan lahir generasi muda yang berdaya saing, berintegritas, adaptif di era modern, serta mampu menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.
Penulis: Muhammad

