![]() |
PACKING OBAT: Petugas UPTD Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan melakukan packing obat untuk didistribusikan ke seluruh kabupaten dan kota – Foto MC Kalsel |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - UPTD Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjamin ketersediaan obat program prioritas kesehatan di seluruh kabupaten dan kota. Berbagai jenis obat program dikelola dan didistribusikan secara terencana untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Plt Kepala UPTD Instalasi Farmasi Dinkes Kalsel, Efrin Pujianti, mengatakan bahwa instalasi farmasi provinsi mengelola seluruh obat program yang berasal dari pemerintah pusat maupun provinsi.
“Kalau obat program yang ada di instalasi farmasi, semua jenis obat program ada, mulai dari TB, HIV, malaria yang jumlahnya paling banyak, kemudian ada obat diare, obat gizi untuk penanganan stunting, obat KIA, serta obat pelayanan kesehatan dasar yang kami siapkan sebagai buffer stock provinsi,” ujarnya di Banjarbaru, senin (26/1/2026).
Efrin menjelaskan, buffer stock provinsi berfungsi sebagai cadangan apabila kabupaten dan kota mengalami kekurangan obat.
“Jika teman-teman kabupaten kota kekurangan obat, maka bisa menggunakan buffer stock provinsi yang ada di instalasi farmasi,” jelasnya.
Terkait permintaan obat dari daerah, Efrin menyebutkan bahwa obat TB dan imunisasi menjadi jenis obat program yang paling banyak didistribusikan, disusul obat HIV.
“Kalau obat program biasanya kita lihat dari kasus yang ada. Kasus TB masih cukup banyak, kemudian imunisasi juga yang paling banyak. Termasuk juga HIV, itu lumayan banyak kita distribusikan ke kabupaten dan kota,” katanya.
Untuk mekanisme distribusi, Instalasi Farmasi Provinsi Kalsel hanya melakukan pendistribusian ke instalasi farmasi kabupaten dan kota, mengingat status obat sebagai hibah dari kementerian maupun provinsi.
“Kami dropping obat hanya ke instalasi farmasi kabupaten/kota saja. Nantinya instalasi farmasi kabupaten kota yang akan mendistribusikan ke puskesmas-puskesmas atau ke layanan kesehatan lainnya,” terang Efrin.
Namun demikian, untuk obat-obat tertentu, distribusi juga dapat melibatkan sektor swasta yang bekerja sama dengan dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.
Dalam mendukung sistem pemantauan logistik, Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel juga memanfaatkan Aplikasi SMILE (Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik secara Elektronik) yang terintegrasi hingga tahun 2025.
“Yang terintegrasi saat ini di aplikasi SMILE antara lain obat TB, baik TBSO maupun TBRO, kemudian HIV, malaria, rabies, imunisasi, dan terakhir juga masuk program CKG untuk pemantauan logistiknya,” jelasnya.
Efrin menegaskan, aplikasi SMILE sangat membantu dalam memantau ketersediaan obat hingga ke layanan kesehatan paling bawah, yaitu puskesmas.
“Aplikasi ini membantu kita untuk pemantauan obat sampai ke layanan paling bawah. Kalau dulu kita masih menggunakan WA atau telepon untuk mengetahui stok, sekarang kita bisa melihat langsung kondisi ketersediaan obat di daerah melalui aplikasi,” pungkasnya.
Dengan pengelolaan logistik yang terintegrasi dan terpantau secara digital, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan optimistis distribusi obat program dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan merata demi mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Sumber: MC Kalsel
