Peluang Jaba, Habib dan Gusti dalam Pemilu

 

Oleh: Noorhalis Majid
(Ambin Demokrasi)


BORNEOTREND.COM - Terlepas kekuatan duit dan popularitas, siapakah kira-kira paling tinggi elektabilitasnya dalam Pemilu di Banua ini, antara Jaba (orang biasa), Habib dan Gusti? 

Mungkin kasat mata akan sepakat, Habiblah yang paling berpeluang dipilih. Terbukti dalam dua puluh tahun terakhir ini, banyak Habib yang terpilih. Bahkan tiga dari empat anggota DPD RI asal Kalsel adalah Habib, dan karenanya, dalam rangka mendulang suara, banyak pula partai menempatkan Habib pada masing-masing daerah pemilihan. Pendek kata, Habib jadi primadona dalam Pemilu di Banua.

Apa sebab demikian?

Mungkin karena mayoritas pemilih miskin informasi tentang caleg. Dari pada asal pilih, lebih baik memilih Habib, jelas alasannya, sebab juriat manusia agung. Tidak peduli apakah punya kapasitas atau tidak. Apakah memperjuangkan aspirasi atau sama saja dengan yang lain. Bahkan, apakah Habib asli atau palsu, yang seketika menambah nama ke notaris hanya untuk menang Pemilu.

Santer gelar Habib dipolitisasi untuk memperoleh simpatik dan dukungan pemilih. Tanpa ragu, membawa nama Rasulullah dalam Pemilu. Bahkan tanpa takut dan malu menghiba, “tolong bantu pilih cucu Rasulullah”. 

Bagi umat Islam, pasti merinding, bahkan mungkin saja meneteskan air mata, ketika disebut Rasullulah, apalagi ada yang meminta tolong atas nama manusia agung tersebut.

Terlalu murah nama mulia lagi suci tersebut dibawa dalam Pemilu. Sebab ini hanya soal mencari pemimpin. Perkara sederhana yang kriterianya dapat dirumuskan dengan mudah. 

Carilah yang berpengalaman, berpengetahuan, kapasitasnya memadai, memiliki integritas, serta punya rekam jejak yang baik.  

Kalau masih ragu, buat kontrak politik, sehingga setelah terpilih, tuntut segala yang sudah dijanjikan. Dengan kriteria seperti itu, entah Jaba, Habib atau Gusti, punya peluang sama memenangkan Pemilu. (nm)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال