Dari Wisata Pasar Terapung Lok Baintan, Melihat Arus Besar Digitalisasi Kalimantan

 

BAYAR NON TUNAI: Pembayaran aneka makanan ringan menggunakan layanan QRIS oleh salah satu wisatawan di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baitan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalsel - Foto Dok Arief


PAGI di hari minggu baru saja beranjak ketika sebuah perahu kecil perlahan menyusuri aliran Sungai Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Diatas perahu milik perempuan bernama Baidah itu, berbagai kebutuhan sehari-sehari tersusun rapi. Ada makanan ringan berupa aneka kue manis, berbagai minuman kemasan, hingga aneka sayur dan buah-buahan yang masih segar.

Semua itu ditawarkan Baidah kepada para wisatawan lokal maupun luar yang sedang menikmati pagi di kawasan Wisata Pasar Terapung Lok Baintan.

Memang biasanya menurut Baidah hari minggu merupakan hari yang paling ramai diantara hari lainnya untuk berdagang di kawasan Wisata Pasar Terapung Lok Baintan. Karena selain waktu libur, biasanya di waktu itu banyak wisatawan luar yang berbelanja, sembari menikmati indahnya pagi di tengah-tengah aliran Sungai Martapura yang terhubung dengan aliran sungai besar, yaitu Sungai Barito.

Karena itulah agar bisa mendapatkan banyak rupiah, Baidah pun rela datang lebih pagi dari hari biasanya. Biasanya pada jam 4 pagi, dirinya sudah mulai menyusun dagangannya diatas perlu sembari menunggu waktu sholat subuh. Setelah sholat subuh Baidah pun bergegas membawa perahunya mulai rumahnya yang ada di Desa Sungai Bakung. Perlu sekitar 10 – 15 menit dari rumahnya menuju kawasan inti wisata Pasar Terapung Lok Baintan.

Tidak hanya harus lebih pagi, Baidah juga harus berkompetisi dengan puluhan perahu lainnya yang sama-sama menjajakan berbagai macam aneka makanan dan minuman di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan.

Untuk menarik hati wisatawan agar mau membeli, Baidah harus merangkai beberapa pantun yang dipelajarinya dari pelatihan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar beberapa tahun silam.

“Indahnya berwisata ke lok baintan. Udaranya bersih dan unik perahunya. Hai para lelaki tampan. Belilah makanan di perahu acil agar dapat cuan,” ucap Baidah ke salah satu kelotok besar yang disinggahinya.


Dengan tambahan beberapa pantun lanjutan, Baidah pun akhirnya mendapatkan pembeli yang membeli beberapa buah pisangnya. Ia pun lantas kegirangan dan menawarkan pembayaran dengan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang sudah dicetaknya lama.

Pembeli yang sebelumnya kesulitan mencari uang tunai untuk membayar pun kegirangan. Karena bisa dengan mudah melakukan pembayaran non tunai menggunakan QRIS.

Bagi Baidah layanan pembayaran melalui QRIS memang sudah tidak menjadi barang baru baginya. Sejak tahun 2021 saat pandemi Covid-19 hadir di Indonesia, tidak terkecuali di Kalsel, membuat dirinya harus menyesuaikan diri dengan pembayaran digital untuk mengurangi interaksi langsung dengan pembeli.

Untungnya saat itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar bekerjasama dengan Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel dan perbankan daerah, memfasilitasi pembuatan QRIS bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), tidak terkecuali pedagang perahu seperti dirinya di wisata Pasar Terapung Lok Baintan.

Kesempatan itu tentunya tidak disia-siakan oleh Baidah dan rekan-rekannya. Walau pun sebelumnya harus ada penyesuaian, kini Baidah merasakan banyak manfaat dari layanan QRIS.

“Salah satunya pembeli bisa lebih mudah membeli dagangan saya. Kalau turis luar daerah pasti banyak yang pakai QRIS, karena mudah bagi mereka untuk berbelanja berbagai dagangan saya,” ucapnya.

Selain itu ia pun bisa terhindar dari uang yang kusut bahkan rusak.

“Kalau pakai tunai kan sering kali nemu uang kusut bahkan rusak. Agak susah kalau ditukar kepada orang lain, lalu jadinya saya rugi,” kenangnya.

Walau memiliki banyak kelebihan, baginya QRIS tetap memiliki resiko. Salah satunya ditipu oleh pembeli dengan memakai bukti pembayaran QRIS lama.

“Pernah beberapa kali, karena memang saya tidak terlalu memperhatikan saat mereka melakukan pembayaran dengan QRIS saya. Pas dicek dirumah ternyata tidak ada transaksi. Walau sedih saya ikhlaskan saja dan jadi pembelajaran saya untuk selanjutnya agar lebih berhati-hati,” kenangnya.


QRIS BESAR: Pedagang wisata Pasar Terapung Lok Baintan saat memperlihatkan layanan pembayaran QRIS miliknya - Foto Dok Arief

Tidak berbeda, Titin, salah satu pedagang perahu lainnya di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan juga mengaku penggunaan QRIS untuk bermacam transaksi di dagangannya memberikan banyak manfaat.

Bagi Titin, teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Meski sehari-hari berjualan menggunakan perahu dan mengandalkan aliran sungai sebagai jalur dagang, ia perlahan juga mengikuti perubahan zaman.

Pembeli cukup membuka Smartphonenya, memindai kode QRIS, lalu pembayaran selesai. Tidak perlu mencari uang pas, tidak perlu menunggu kembalian. Sederhana, tetapi bagi pedagang kecil seperti Titin, kemudahan itu berarti.

“Kadang pembeli bilang tidak membawa uang tunai. Kalau ada QRIS, tetap bisa membeli,” terangnya.

Agar wisatawan lebih mudah melakukan pembayaran menggunakan QRIS, Titin mencetak kode QRIS dengan ukuran yang lebih besar dibanding pedagang lainnya.

“Supaya dijarak jauh pun mereka bisa tetap melakukan pembayaran. Kalau saat ini ada sekitar 30 persen yang melakukan pembayaran dengan QRIS, khususnya wisatawan dari luar daerah,” timpalnya.

Titin pun juga berbagi pengalamannya terkait penggunaan QRIS. Ia juga mengaku pernah ditipu dengan transaksi palsu dengan menggunakan modus pembayaran dengan bukti pembayaran QRIS lawas.

“Jadi sekarang agar tidak mudah ditipu, sering kali saya minta tambahkan 1 rupiah di belakang transaksi QRIS. Supaya saya benar-benar yakin bahwa pelanggan benar-benar sudah melakukan transaksi,” tambahnya lagi.


BAYAR QRIS: Salah satu wisatawan luar saat mencoba naik ke perahu sembari membayar menggunakan QRIS di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baitan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalsel - Foto Dok Arief

Perahu yang menjadi tempat Baidah dan Titin, hingga puluhan pedagang lainnya di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan mencari nafkah kini bukan hanya membawa barang dagangan. Ia juga membawa cerita tentang bagaimana teknologi digital mulai menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke sudut-sudut sungai. Di atas air, antara suara mesin perahu dan riak sungai, transaksi digital berlangsung.

QRIS mungkin hanya sebuah kode berbentuk kotak. Namun bagi mereka, kode itu menjadi jembatan kecil menuju perubahan membuktikan bahwa digitalisasi tidak hanya milik toko besar dan pusat perbelanjaan. Bahkan dari atas sebuah perahu kecil, ekonomi digital bisa bergerak.

Komitmen Pemkab Banjar Dukung Perluasan dan Akseptasi Digital di Berbagai Destenasi Wisata Unggulan


RAMAI: Even tahunan Festival Lok Baintan Pasar Terapung yang digelar Pemkab Banjar setiap tahunnya di Kawasan Wisata Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalsel - Foto Dok Istimewa

Berkembangnya pemikiran pedagang perahu penjual berbagai aneka makanan dan minuman di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan Baidah dan Titin, terhadap penggunaan layanan transaksi non tunai menggunakan QRIS tentunya tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

Kabid Pemasaran dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar Sofia Windriati mengakui, dari sekitar 500an pedagang perahu penjual berbagai aneka makanan dan minuman di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan, sekitar 30 persennya sudah menyediakan layanan QRIS.

“Kita mulai masalah QRIS ini sejak zaman Covid-19 dulu di tahun 2021. Hingga tahun 2026 ini pengguna QRIS untuk para pedagang sudah mencapai 30 persen dan ini akan terus kami tingkatkan lagi kedepannya,” jelasnya.

Dengan menggunakan layanan QRIS harapannya para wisatawan lokal dan luar semakin mudah berbelanja dan tertarik datang ke kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan.

Apalagi target Pemkab Banjar di tahun 2026 kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan harus lebih baik dari capaian tahun lalu yang tembus hingga 65.000 pengunjung. Ada pun saat ini kunjungan baru menyentuh angka 24.852 pengunjung.

“Agar kunjungan meningkat tidak hanya memudahkan layanan pembayaran non tunai bagi wisatawan yang datang berkunjung. Kami juga rutin menggelar pelatihan kepada pelaku pariwisata agar semakin professional dalam memberikan layanan kepada wisatawan,” bebernya.

Tidak berhenti sampai disitu, even tahunan pun juga digelar di kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan, salah satunya pada Oktober – November 2026, yaitu Festival Lok Baintan Pasar Terapung.

“Harapan kita melalui berbagai cara ini kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan semakin dikenal luas, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara,” tuturnya.

Selain itu pengembangan wisatawa lainnya di Kabupaten Banjar juga terus dilakukan, yang baru ini ada Pulau Pinus Araniao Riam Kanan dan Bukit Batu. 

“Untuk kawasan wisata baru ini kita juga dorong agar UMKMnya bisa melek pembayaran digital. Supaya saat wisatawan datang mereka mudah melakukan transaksi untuk masuk ke berbagai destenasi yang ada disana, berbelanja makanan dan minuman hingga oleh-oleh khas tempat wisata tersebut,” tukasnya.

BI, OJK dan Bank Kalsel Berkolaborasi Perkuat Perluasan dan Akseptasi Digital Untuk Dorong Sektor Pariwisata Kalsel


RAMAI: Even Banua QRIStival 2026 pada 23 - 24 Mei 2026 lalu di kawasan wisata Siring 0 KM Banjarmasin di isi dengan berbagai kegiatan menarik - Foto Dok Istimewa

Kolaborasi antara BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Kalsel merupakan langkah strategis yang sangat krusial dalam mempercepat perluasan dan akseptasi digital untuk mendorong sektor pariwisata di Kalsel.

Sebagai langkah konkrit Perwakilan BI Provinsi Kalsel belum lama tadi menggelar kegiatan Banua QRIStival 2026 pada 23 - 24 Mei 2026 lalu di kawasan wisata Siring 0 KM Banjarmasin, di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalsel.

Memasuki penyelenggaraan di tahun ketiganya, Banua QRIStivaI hadir dengan konsep dan inovasi baru yang memadukan semangat digitalisasi pembayaran dengan pelestarian seni budaya khas Kalsel. Hal itu tentunya menjadikan even ini lebih dari sekadar festival melainkan momentum strategis percepatan ekosistem pembayaran digital yang inklusif dan modern di Bumi Banua.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel Fadjar Majardi dalam kesempatan tersebut menyatakan, bahwa Banua QRIStival 2026 dirancang sebagai sarana edukasi sekaligus apresiasi kepada masyarakat yang telah antusias menggunakan QRIS dalam kehidupan sehari-hari. 

“Banua QRIStival bukan hanya tentang teknologi pembayaran. Ini adalah wujud kolaborasi nyata antara BI, Penyedia Jasa Pembayaran, dan Pemerintah Daerah dalam mendorong percepatan digitalisasi yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat Kalsel,” ujarnya.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, dalam even Pamor Borneo 2026 diselenggarakan pada tanggal 7–9 Agustus 2026 lalu, Perwakilan BI Provinsi Kalsel juga mendorong kolaborasi secara nyata dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dalam rangka meningkatkan penggunaan QRIS bagi masyarakat hingga pelaku UMKM, salah satunya dengan mengukuhkan Ketua Dekranasda Provinsi Kalsel Hj. Fathul Jannah Muhidin, sebagai Bunda QRIS Kalsel.

Hal ini ditandai dengan pengalungan selempang dan penyematan pin yang disaksikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel yang baru Haris Munandar.


SIMBOLIS: Ketua Dekranasda Provinsi Kalsel Hj. Fathul Jannah Muhidin (tengah) saat dikukuhkan sebagai Bunda QRIS Kalsel yang disaksikan langsung oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel yang baru Haris Munandar (kiri) dalam kegiatan Penutupan even Pamor Borneo 2026 diselenggarakan pada tanggal 7–9 Agustus 2026 lalu di Atrium Duta Mall Banjarmasin - Foto Dok Istimewa

Momen ini sekaligus menjadi amanah bagi Hj. Fathul Jannah Muhidin untuk turut mendorong masyarakat semakin mengenal dan menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal.

“Saya sebagai Duta QRIS mengajak seluruh masyarakat Kalsel terus memanfaatkan QRIS untuk memudahkan dan keamanan transaksi,” tambahnya.

Sebelumnya, OJK Provinsi Kalsel juga memiliki komitmen yang besar dalam perluasan dan akseptasi digital untuk mendorong sektor pariwisata di Kalsel.


BERI ARAHAN: Kepala OJK Provinsi Kalsel Agus Maiyo - Foto Dok Istimewa

Kepala OJK Provinsi Kalsel Agus Maiyo dalam sebuah kesempatan menerangkan, pihaknya akan berkontribusi dalam rangka memastikan literasi keuangan digital yang baik bagi pelaku UMKM di sektor pariwisata dalam penggunaan QRIS serta mengawasi lembaga jasa keuangan yang terhubung di dalamnya.

“Kan banyak itu kasus pelaku UMKM ditipu dengan bukti pembayaran QRIS palsu. Nah disini peran OJK agar bagaimana caranya bisa memberikan pelatihan dan pemahaman kepada pelaku UMKM agar tidak mudah tertipu dengan pembayaran melalui QRIS,” tegasnya.

Dengan berbagai pelatihan tersebut nantinya, diharapkan kasus penipuan pembayaran QRIS palsu bisa ditekan di kalangan masyarakat maupun pelaku UMKM yang ada di Banua.


“Kita nanti akan kolaborasi dengan BI dan perbankan daerah terkait pelatihan ini. Karena kolaborasi sangat penting agar penggunaan QRIS di Kalsel semakin luas, aman serta bisa memberikan dampak dalam mempercepat perluasan dan akseptasi digital di wilayah Kalsel,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Bisnis PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan (Bank Kalsel) H. Izhar juga menegaskan komitmen Bank Daerah, yakni Bank Kalsel dalam mendorong percepatan perluasan dan akseptasi digital di wilayah Kalsel, khususnya terkait pembayaran melalui QRIS.


MUDAH: Pembayaran belanja menggunakan layanan QRIS dari Aksel Bank Kalsel - Foto Dok Nett


“Saat ini yang daftar sebagai merchant QRIS dari Bank Kalsel jumlahnya sudah mencapai 16.000. Ini angkanya akan terus bertambah, seiring dengan berbagai kemudahan yang kita berikan kepada pelaku UMKM,” bebernya.

Tidak hanya kemudahan, pihaknya pun juga mentarget kedepannya berbagai destenasi wisata unggulan yang ada di Kalsel kedepannya ekosistemnya bisa menggunakan layanan QRIS dari Bank Kalsel.

“Beberapa destenasi wisata sudah pakai QRIS dari Bank Kalsel, baik itu saat masuk objek wisatanya, pedagang disana hingga berbagai layanan destenasi wisatanya. Ini akan terus kita kembangkan lagi bersama Pemerintah Daerah maupun pihak swasta yang mengelola destenasi wisata unggulan di Kalsel,” ujarnya.

Dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan BI, OJK dan Bank Kalsel dalam mendorong perluasan dan akseptasi digital di wilayah Kalsel, perkembangan elektronifikasi dan digitalisasi terus mengalami peningkatan. Hal ini tercermin data yang dirilis oleh www.bi.go.id bahwa terjadi peningkatan jumlah merchant yang telah memiliki QRIS di Kalsel yang tumbuh sebesar 27,78% (yoy) atau mencapai 564,55 ribu merchant. Bahkan Kalsel mampu mempertahankan pencapaian skor Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD) pada Semester II 2025 dengan status 100% digital.

Bahkan menurut data kalsel.bps.go.id, sektor pariwisata di Kalsel juga sudah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Hal ini tercermin dari perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) Juli 2026 yang berasal dari Kalsel tercatat sebanyak 1.765.051 perjalanan, naik 3,06 persen jika dibandingkan dengan Juni 2026 yang sebanyak 1.712.587 perjalanan. Adapun perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) Juli 2026 dengan tujuan Kalsel tercatat sebanyak 1.633.714 perjalanan, naik 1,31 persen jika dibandingkan dengan Juni 2026 yang sebanyak 1.612.573 perjalanan.

Pada bulan Juli 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kalsel melalui pintu masuk Syamsudin Noor dan Bersujud adalah sebanyak 405 kunjungan. Kondisi tersebut mengalami kenaikan sebesar 50,56 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 269 kunjungan. Pada periode Juli 2026 jumlah wisatawan mancanegara terbesar adalah warga negara berkebangsaan Malaysia yaitu sebanyak 360 kunjungan, kemudian disusul oleh kebangsaan Tiongkok dan Indonesia, masing-masing sebanyak 19 kunjungan, dan 10 kunjungan. 

Transaksi Digital di Jadi Keniscayaan Untuk Pengembangan Sektor Pariwisata di Kalimantan

WAWANCARA: dosen pengajar pada Program Studi S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas ULM Sudirwo, S.E., M.M - Foto Dok Istimewa


Kalimantan memiliki berbagai destinasi wisata unggulan yang terkenal dengan keindahan alam, kekayaan flora-fauna, dan budaya yang unik, tidak terkecuali Provinsi Kalsel.

Namun walau memiliki destenasi wisata unggulan dan potensi, jika tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai, maka potensi yang dimiliki akan menghasilkan output yang kurang optimal.

“Infrastruktur pariwisatanya apa saja, akses jalan menunju tempat wisata, fasilitas pendukung disana baik penginapan, UMKM hingga transportasi. Lalu yang tidak kalah penting dan sudah merupakan sebuah keniscayaan karena hari ini adalah era digital, yaitu juga harus tersedia pembayaran menggunakan layanan non tunai,” tegas dosen pengajar pada Program Studi S1 Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Sudirwo, S.E., M.M.

Nah melihat kenyataan itu, dirinya pun mendorong agar Pemda bekerjasama dengan perbankan bisa serius dalam menyediakan layanan pembayaran non tunai di destenasi-destenasi wisata unggulan yang ada di wilayah Kalsel.

“Mulai dari masuk destenasi wisatanya, harus disediakan pembayaran non tunai dengan QRIS. Lalu saat menginap, makan dan minum di UMKM sekitar hingga membayar ongkos transportasi semua harus tersedia layanan QRIS. Kalau ini bisa dilakukan saya yakin wisatawan bakal makin tertarik berkunjung dan bisa mendorong sektor pariwisata yang ada di wilayah Kalsel,” bebernya.

Apalagi mau tidak mau Kalsel maupun wilayah Kalimantan pada umumnya sampai hari ini sektor penggerak ekonominya masih sangat mengandalkan dari Sumber Daya Alam (SDA). Kalau sektor alternatif, salah satunya pariwisata tidak dibenahi mulai dari sekarang, saat SDA habis maka bisa mengancam pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita harus mengakui lah, Kalsel bahkan seluruh wilayah Kalimantan saat ini ekonominya masih tergantung dari SDA masing-masing daerah. Ini harus segera dirubah dan cari alternatif, salah satunya sektor pariwisata. Makanya harus dibenahi betul-betul sektor pariwisatanya, tidak hanya infrastruktur pendukung tapi juga layanan pembayaran digitalnya agar wisatawan makin tertarik untuk datang dan menikmati berbagai destenasi wisata yang tersedia,” tukasnya.

Penulis: Arief Rahman

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال