KEMARAU: Sawah petani mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini - Foto mandiriamalinsani.or.id |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pertengahan September 2026 masih berada dalam musim kemarau sehingga kedatangan musim hujan 2026 belum berlangsung secara serentak.
Berdasarkan pemantauan hingga dasarian I September 2026, sekitar 80,7% wilayah Indonesia atau 564 zona musim (ZOM) masih mengalami musim kemarau.
Kondisi tersebut menunjukkan pergantian musim belum terjadi di sebagian besar wilayah meskipun September sudah memasuki pertengahan bulan.
BMKG memprediksi curah hujan kategori tinggi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.
Namun, peningkatan curah hujan tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia langsung memasuki musim hujan pada periode yang sama.
Peralihan musim berlangsung secara bertahap dan waktunya dapat berbeda di setiap wilayah. Perkembangan musim perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing ZOM.
September 2026 Masih Didominasi Musim Kemarau
Data BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode kemarau pada dasarian I September 2026.
Wilayah yang mengalami musim kemarau mencakup sebagian Aceh, sebagian besar Sumatera, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sejumlah wilayah Papua. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa hujan belum turun secara merata di Indonesia meskipun kalender telah memasuki September. Secara klimatologis, pergantian musim memang tidak berlangsung serentak dari satu daerah ke daerah lainnya.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak kemarau 2026 paling banyak terjadi pada Agustus. Meski demikian, sebagian wilayah masih memasuki puncak musim kemarau pada September.
Sebanyak 169 ZOM atau sekitar 25,41% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September.
Wilayah tersebut, meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta Papua Pegunungan bagian tengah.
Perkiraan Awal Musim Hujan 2026
Awal musim hujan tidak dapat ditentukan dengan satu tanggal yang berlaku untuk seluruh Indonesia. Hal ini karena setiap zona musim memiliki karakteristik dan waktu peralihan yang berbeda.
BMKG menuturkan mengenai kondisi kemarau 2026, curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.
Oktober menjadi salah satu periode yang perlu diperhatikan karena peningkatan curah hujan diperkirakan mulai terjadi di sejumlah wilayah.
Namun, hujan yang mulai turun di suatu daerah tidak otomatis menandakan wilayah tersebut telah sepenuhnya memasuki musim hujan.
Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, waktu masuknya musim hujan dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Sekitar 80,7 Persen Wilayah Masih Mengalami Kemarau
Gambaran kondisi September 2026 juga terlihat dari pemantauan dinamika atmosfer BMKG. Pada dasarian I September 2026, sebanyak 564 ZOM atau 80,7% wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau.
Sementara pada periode September II hingga Oktober I 2026, curah hujan secara umum diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 milimeter per dasarian.
Data tersebut menunjukkan memasuki akhir September belum berarti seluruh wilayah Indonesia akan langsung mengalami hujan secara rutin.
Sejumlah wilayah juga masih menghadapi kondisi atmosfer yang relatif kering. BMKG mencatat adanya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) dalam durasi cukup panjang.
Dalam prakiraan cuaca periode 15-21 September 2026, BMKG menyebut sekitar 81% ZOM telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik tercatat mengalami HTH kategori ekstrem, yaitu lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
Wilayah yang terdampak terutama berada di Indonesia bagian selatan, termasuk Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Pengaruh El Niño terhadap Kondisi Kemarau 2026
Pergantian musim tidak hanya ditentukan oleh pergantian bulan. Kondisi atmosfer dan dinamika iklim turut memengaruhi perkembangan musim di setiap wilayah.
BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai kategori sangat kuat.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap karakter musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dalam pemantauan dasarian I September, BMKG juga mencatat pengaruh El Niño yang masih sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat mencapai +2,76 derajat celsius.
Kondisi atmosfer yang relatif kering tersebut turut berkaitan dengan meluasnya periode tanpa hujan di sejumlah wilayah.
Oleh karena itu, hujan yang turun sesekali selama September tidak selalu menandakan bahwa musim hujan telah dimulai secara penuh.
Perubahan musim perlu dilihat berdasarkan perkembangan curah hujan dalam periode tertentu di masing-masing wilayah.
Hujan Lokal Masih Berpotensi Terjadi Saat Kemarau
Musim kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan lokal masih dapat terjadi di sejumlah daerah.
Dalam prakiraan periode 15-21 September 2026, BMKG meminta masyarakat tetap mewaspadai hujan lokal dan angin kencang di beberapa wilayah meskipun kondisi atmosfer secara umum masih didominasi keadaan kering.
Hujan yang turun pada masa kemarau tidak dapat langsung dijadikan patokan bahwa suatu daerah telah memasuki musim hujan.
Hujan lokal dan awal musim hujan merupakan dua kondisi yang berbeda. Awal musim ditentukan berdasarkan perkembangan pola curah hujan yang lebih konsisten sesuai karakteristik Zona Musim.
Awal Musim Hujan Berbeda pada Setiap Wilayah
Luas wilayah Indonesia dan perbedaan karakteristik iklim membuat awal musim hujan tidak terjadi secara serentak. BMKG membagi wilayah Indonesia ke dalam Zona Musim untuk memantau perkembangan musim.
Data tersebut digunakan untuk mengetahui waktu suatu wilayah memasuki musim kemarau maupun musim hujan. Perbedaan waktu tersebut juga terlihat pada prediksi musim kemarau 2026.
BMKG mencatat puncak kemarau terjadi pada bulan yang berbeda di berbagai ZOM, dengan sebagian besar mencapai puncak pada Agustus dan wilayah lainnya pada September.
Pola tersebut membuat waktu masuknya musim hujan juga perlu dilihat berdasarkan wilayah masing-masing. Patokan satu bulan untuk seluruh Indonesia tidak dapat digunakan untuk menentukan awal musim hujan di setiap daerah.
Oktober-November Menjadi Periode Peralihan Musim
Pembaruan BMKG menunjukkan Oktober hingga November 2026 menjadi periode yang perlu diperhatikan dalam perkembangan menuju musim hujan.
BMKG menyebut curah hujan kategori tinggi diperkirakan mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia otomatis memasuki musim hujan pada Oktober.
Perubahan musim tetap berlangsung secara bertahap sesuai kondisi masing-masing ZOM. Masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan hujan di daerahnya perlu memperhatikan informasi BMKG berdasarkan lokasi.
Prakiraan cuaca nasional dapat menjadi gambaran umum, sedangkan informasi wilayah memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kondisi setempat.
Cara Memantau Perkembangan Musim Hujan dari BMKG
BMKG menyediakan berbagai informasi yang dapat digunakan masyarakat untuk mengikuti perkembangan cuaca dan musim di Indonesia.
Informasi mengenai prediksi musim, dinamika atmosfer, potensi hujan, serta prakiraan cuaca dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG.
Salah satu sumber informasi yang dapat digunakan adalah halaman prediksi musim BMKG, yang memuat informasi mengenai prediksi musim hujan dan musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG juga menyediakan halaman potensi hujan sepekan ke depan untuk melihat perkembangan potensi hujan dalam periode yang lebih pendek. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai pelengkap untuk mengetahui kondisi cuaca terkini di berbagai wilayah.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih spesifik berdasarkan daerah, masyarakat juga dapat mengikuti pembaruan dari stasiun klimatologi BMKG pada masing-masing wilayah.
Sumber: beritasatu.com