Rudiansyah, Remaja Viral Gunakan Seragam Superman Padamkan Karhutla di Palangka Raya

 

VIRAL: Rudiansyah, remaja berusia 17 tahun asal Kota Palangka Raya, Provinsi Kalteng, viral di media sosial hingga masuk pemberitaan internasional Washington Post dan Reuters setelah ikut membantu memadamkan karhutla dengan menggunakan seragam superhero DC Comic, Superman - Foto Dok Nett


BORNEOTREND.COM, JAKARTA- Seorang remaja berusia 17 tahun asal Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), viral di media sosial hingga masuk pemberitaan internasional Washington Post dan Reuters setelah ikut membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggunakan seragam superhero DC Comic, Superman.

Belakangan, remaja itu diketahui bernama Rudiansyah yang kini berusia 17 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kelas X SMA Negeri 10 Palangka Raya.

Rudi mengikuti aktivitas memadamkan kebakaran lantaran lokasi itu berada di dekat rumahnya, Jalan Petuk Katimpun, Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya. Aksi itu ia lakukan sepulang sekolah.

“Saya khawatir melihat kebakaran lahan yang semakin mendekati rumah saya, makanya sepulang sekolah saya sempatkan untuk ikut membantu pemadaman,” beber Rudi saat dibincangi Kompas.com, senin (17/8/2026) di lokasi kebakaran Jalan Petuk Katimpun.


Anak ketiga dari empat bersaudara ini menjelaskan, penggunaan kostum Superman dalam aksi pemadaman itu ia lakukan lantaran iseng. Ia menggunakan kostum itu karena sudah lama tidak terpakai, yang awalnya ia gunakan untuk mengikuti event lari.

“Pakai kostum ini iseng, beli udah dari Februari 2026, untuk ikut kejuaraan lari maraton, tapi enggak terpakai,” jelas remaja kelahiran Januari 2009 ini.

Rudi menegaskan, aksi yang ia lakukan itu merupakan tindakan spontan untuk melindungi rumahnya yang berada sangat dekat dengan lokasi kebakaran hutan dan lahan. Ia sendiri mengaku memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan perihal kabut asap.

“Jadi waktu usiaku 6 tahun, tahun 2015 dulu, Palangka Raya ini kan kabut asap tebal, sampai sakit gara-gara kabut asap, aku tidak mau kejadian serupa terulang,” tuturnya.

Remaja yang menggemari olahraga lari maraton ini mengaku tidak bisa lagi berlatih lari tiap pagi atau sore di sekitar rumahnya lantaran kabut asap akibat maraknya karhutla. Alih-alih berharap keajaiban datang, ia ikut turun ke lapangan menerobos api untuk memadamkan kebakaran.

“Tahun 2015 itu sangat membekas dalam ingatan saya, saya tidak ingin asap tebal seperti itu terulang, makanya saya ikut membantu memadamkan juga,” pungkasnya.

Sumber: Kompas

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال