![]() |
Anggota Komisi IV DPRD Kalsel, H Iberahim Noor – Foto Muchroni |
BORNEOTREND.COM, KALSEL – Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) menyoroti kondisi kebudayaan daerah, khususnya bahasa dan kesenian tradisional Banjar yang dinilai semakin redup di tengah perkembangan zaman.
Anggota Komisi IV DPRD Kalsel, H Iberahim Noor, mengatakan pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel perlu mengambil langkah nyata untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Menurutnya, perhatian perlu diberikan terhadap sejumlah aspek kebudayaan, mulai dari kesenian daerah hingga Bahasa Banjar yang saat ini semakin jarang digunakan oleh generasi muda.
“Kalau kita melihatnya di bidang kebudayaan, di bidang kesenian daerah, di bidang Bahasa Banjar, saat ini semakin redup. Misalnya kesenian daerah semakin redup, Bahasa Banjar semakin redup,” ujarnya, usai rapat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (10/8/2026).
Iberahim mencontohkan, dahulu masyarakat cukup familiar dengan program berbahasa Banjar di televisi, salah satunya program “Katupat Banjar” yang pernah hadir di stasiun TVRI setiap pagi.
Menurut dia, keberadaan program semacam itu turut membiasakan masyarakat mendengar dan menggunakan Bahasa Banjar dalam kehidupan sehari-hari.
“Dulu Bahasa Banjar ini ada. Pagi kita dengar namanya Katupat Banjar. Itu ada di TVRI setiap hari. Itu kan membiasakan Bahasa Banjar supaya diketahui oleh masyarakat. Sekarang ini tidak ada lagi,” katanya.
Ia khawatir, apabila tidak ada upaya pelestarian secara serius, Bahasa Banjar yang asli semakin sulit ditemukan dan pada akhirnya dapat terancam punah. Saat ini, kata dia, penggunaan Bahasa Banjar juga mulai bercampur dengan bahasa lain.
“Unda nyawa itu tidak ada lagi, habis, hampir habis lah, hampir punah. Mungkin ada tutuha-tutuha lagi yang masih menggunakan,” ujarnya.
Selain Bahasa Banjar, Iberahim turut menyoroti keberadaan kesenian tradisional yang semakin jarang ditemui dalam kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan tradisi Wayang Banjar yang dahulu kerap hadir dalam kegiatan kawinan maupun hajatan masyarakat, tetapi kini keberadaannya semakin jarang.
“Dahulu kita kalau misalnya perkawinan, kalau ada hajat, itu mesti ada Wayang. Sekarang Wayang sudah hampir tidak ada lagi. Mungkin akhirnya bisa punah,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan kesenian tradisional secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah.
Ia mengatakan, pada masa lalu kesenian daerah masih dapat berkembang meski dukungan pemerintah belum sebesar sekarang. Namun, perubahan zaman dan masuknya budaya asing membuat keberadaan kesenian lokal semakin terdesak.
“Kalau tidak dari Provinsi Kalimantan Selatan ini untuk membina kesenian-kesenian itu, maka akan punah. Kalau dulu walaupun tidak dibantu daerah itu masih ada berkembang. Tapi sekarang tidak ada lagi berkembang karena budaya asing masuk,” jelasnya.
Karena itu, Komisi IV DPRD Kalsel meminta Pemprov Kalsel melalui Dinas Kebudayaan lebih serius dalam menghidupkan kembali kebudayaan lokal.
Iberahim berharap Bahasa Banjar dan kesenian daerah tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap digunakan dan dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.
“Kami meminta kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Kebudayaan, bisa menggairahkan Bahasa Banjar supaya bisa dinikmati oleh orang-orang yang sekarang ini mungkin tidak memakai Bahasa Banjar lagi,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga Bahasa Banjar yang asli agar tidak semakin hilang ditelan perkembangan zaman.
“Artinya Bahasa Banjar yang betul-betul asli. Sekarang ini kan masih campur-campuran,” pungkasnya.
Penulis: Muchroni
