Budi Arie Singgung Pemilu Bisa Lebih Cepat dari 2029

Ketua Umum DPP Projo Budi Arie Setiadi dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) – Foto tangkapan layar


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP Projo Budi Arie Setiadi menjadi sorotan setelah potongan video pernyataannya mengenai kemungkinan Pemilu 2029 berlangsung lebih cepat beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Budi Arie mengajak para sukarelawan mempersiapkan berbagai skenario politik di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang berkembang.

Video berdurasi 1 menit 47 detik itu memperlihatkan Budi Arie berbicara di hadapan para sukarelawan. Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tampak duduk di sebelah Budi Arie dan turut terekam dalam video.

“Saya ingin sampaikan, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong Pemilu 2029, tetapi kalau terjadi percepatan bagaimana? Kita siap tidak?” kata Budi Arie dalam video tersebut.

Menurut Budi Arie, potensi percepatan penyelenggaraan pemilu sangat dimungkinkan. Keyakinannya itu muncul setelah membaca keresahan masyarakat akan kondisi perekonomian terkini. Dalam pandangannya, banyak masyarakat yang merasa tidak puas akan situasi saat ini. Untuk itu, ia mengajak rekannya sesama sukarelawan untuk memikirkan langkah-langkah lain jika kelak terjadi gejolak politik.

Dihubungi secara terpisah, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo, Freddy Alex Damanik, menjelaskan, potongan video itu diambil saat pertemuan rutin yang digelar tiga bulan sekali antara para sukarelawan dan Jokowi di Jakarta, Senin (24/8/2026). Pada pertemuan itu para sukarelawan dipersilakan saling bertukar informasi, pikiran, serta pendapat.

Ihwal pernyataan Budi, lanjut Freddy, hal itu menjadi pandangan pribadi yang diutarakan dalam pertemuan tersebut. Pasalnya, forum memang membebaskan setiap orang yang hadir untuk menyampaikan pemikirannya.

Namun, Freddy juga meminta agar pernyataan Budi Arie itu dibaca secara utuh sebagai bentuk kesiapan sukarelawan atas segala dinamika politik yang mungkin terjadi di kemudian hari.

”Itu pandangan Budi Arie melihat situasi politik hari (ini). Misalnya, kalau terjadi situasi-situasi di luar kebiasaan seperti percepatan Pemilu 2029 karena situasi politik yang tidak kondusif. Itu dia contohkan dengan maraknya demo belakangan. Nah, ini sukarelawan pendukung Pak Jokowi akan bagaimana, itu dipikirkan bersama-sama,” kata Freddy. 

Freddy menampik jika pernyataan Budi Arie dianggap sebagai upaya manuver politik atas pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia pun menegaskan, kelompok sukarelawannya itu masih solid mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sampai tuntas pada 2029. Kebulatan dukungan tersebut ditegaskan semua sukarelawan yang tergabung dalam kelompok itu saat perayaan ulang tahun DPP Projo pada 23 Agustus 2026.

”Kami tidak bermanuver dengan kondisi ini. Bukan seperti itu melihatnya. Dan, kami tidak memprovokasi publik ataupun sukarelawan lainnya. Ini cuma mengajak brainstorming kalau terjadi situasi itu. Selaku pendukung pemerintah, pendukung Jokowi, kami mengajak berpikir begitu,” kata Freddy.

Selain itu, jelas Freddy, pernyataan Budi Arie juga ditanggapi Jokowi sebelum forum pertemuan sukarelawan tersebut berakhir. Menariknya, sebut Freddy, Jokowi justru meminta para sukarelawan agar tidak terlalu mengkhawatirkan pemikiran Budi Arie. Sebagai sosok yang selalu membaca data, Jokowi menganggap kondisi perekonomian masih terkendali.

”Beliau bilang, belum ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebih. Jadi tetap saja agar kita mendukung pemerintahan ini. Situasi masih aman kata beliau. Lalu, perbedaan dalam demokrasi itu disikapi biasa saja,” kata Freddy.


Manuver Politik

Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, A Bakir Ihsan, memaknai pernyataan Budi Arie sebagai sebuah manuver politik. Upaya itu ditempuh Budi Arie guna menaikkan posisi tawar terhadap rezim yang mengeluarkannya dari lingkaran kekuasaan. Adapun manuver politik itu hanya dilakukan untuk kepentingan pribadinya demi eksistensi Projo seiring maraknya isu Jokowi akan memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Dalam kondisi itu, lanjut Bakir, Budi Arie coba menawarkan kekuatan kelompok sukarelawannya selaku pendukung Jokowi. Menurut dia, Jokowi masih memiliki posisi penting dalam rezim Prabowo-Gibran. Ini sehubungan dengan status Gibran sebagai anak sulung Jokowi.

”Dampak yang ditimbulkan adalah semakin memperkuat bahwa Budi Arie atas nama Projo siap mengambil posisi dengan beragam kemungkinan yang ada walaupun kekuatannya masih belum bisa dipastikan. Ini semacam menjadi bayang-bayang kebesaran masa lalu di tengah rezim yang berbeda,” kata Bakir.

Di sisi lain, jelas Bakir, hubungan Prabowo dan Jokowi tidak akan terpengaruh manuver politik yang dijalankan Budi Arie. Ia menyebut, kedua elite itu akan menjaga hubungan baiknya. Bukti terawatnya hubungan kedua sosok itu terlihat dari kemunculan mereka dalam acara besar. Salah satunya adalah pidato kenegaraan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR 2026 menjelang perayaan HUT Ke-81 RI.

Sumber: kompas.id

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال