![]() |
| ENDEMIK: Kadal terbang (Draco cornutus) hewan endemik Kalimantan ditemukan di Situs Batu Gamping Batu Laki, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) – Foto MC Kalsel |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark yang melakukan kegiatan monitoring di Situs Batu Gamping Batu Laki, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) menemukan kadal terbang (Draco cornutus), Selasa (7/7/2026) lalu. Kadal terbang merupakan salah satu satwa arboreal endemik Pulau Kalimantan yang menjadi indikator masih terjaganya kualitas habitat alami di kawasan tersebut.
Temuan ini diperoleh saat tim melakukan pengamatan lapangan sebagai bagian dari kegiatan monitoring yang bertujuan mendokumentasikan kondisi situs, potensi geologi, serta kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan Batu Gamping Batu Laki.
Biologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Ramadhan Jayusman, menjelaskan bahwa Draco cornutus merupakan spesies kadal yang memiliki selaput kulit (patagium) di kedua sisi tubuhnya. Selaput tersebut berfungsi sebagai alat untuk meluncur dari satu pohon ke pohon lainnya sehingga satwa ini dikenal dengan sebutan kadal terbang atau naga terbang.
“Keberadaan Draco cornutus menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem di kawasan Batu Gamping Batu Laki masih berada dalam kondisi yang baik. Satwa ini sangat bergantung pada tutupan vegetasi yang terjaga, sehingga keberadaannya menunjukkan bahwa habitat alami di kawasan ini masih mampu mendukung kehidupan berbagai jenis fauna khas Kalimantan,” ujar Jayusman di Banjarbaru, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, hasil monitoring tersebut akan menjadi bagian dari inventarisasi keanekaragaman hayati Geopark Meratus yang dapat dimanfaatkan sebagai data pendukung dalam upaya konservasi, penelitian, maupun pengembangan edukasi lingkungan.
“Geopark tidak hanya berbicara mengenai warisan geologi, tetapi juga mencakup keanekaragaman hayati dan budaya yang saling berkaitan. Karena itu, setiap temuan seperti ini memiliki nilai penting untuk memperkuat upaya pelestarian sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kekayaan alam yang dimiliki Kalimantan Selatan,” tambahnya.
Pengalaman menarik juga dirasakan oleh anggota tim Bidang Publikasi Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Andre Fredly, yang untuk pertama kalinya menyaksikan secara langsung keberadaan kadal terbang di habitat alaminya.
“Saya sempat mengira satwa tersebut hanyalah kadal biasa yang berada di batang pohon. Namun ketika ia membuka selaput di sisi tubuhnya lalu meluncur ke pohon lain, saya benar-benar terkejut. Pengalaman ini memberikan kesan tersendiri sekaligus membuka wawasan saya mengenai kekayaan fauna yang ada di kawasan Geopark Meratus,” ungkap Andre.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kegiatan monitoring tidak hanya menghasilkan data teknis, tetapi juga menghadirkan pengalaman lapangan yang memperlihatkan secara langsung pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Temuan Draco cornutus semakin memperkuat nilai penting Situs Batu Gamping Batu Laki sebagai kawasan yang tidak hanya memiliki kekayaan geologi, sejarah, dan budaya, tetapi juga berperan sebagai habitat berbagai flora dan fauna khas Kalimantan.
Melalui kegiatan monitoring yang dilakukan secara berkelanjutan, Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark berharap berbagai potensi kawasan dapat terdokumentasi dengan baik sebagai dasar pengelolaan geopark yang berkelanjutan serta mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan warisan alam yang dimiliki Kalimantan Selatan.
Sumber: MC Kalsel

