![]() |
| FOTO BERSAMA: PT KSEI menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalsel - Foto Dok Rilis BEI Kalsel |
BORNEOTREND.COM, KALSEL- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal di Kota Banjarmasin, bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF).
Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terbaru tentang perkembangan pasar modal, termasuk terkait perlindungan investor yang dijalankan KSEI, KPEI, dan Indonesia SIPF.
Rangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal yang dilaksanakan meliputi acara media gathering, gathering pengurus Galeri Investasi di Kalimantan Selatan (Kalsel), kegiatan training for trainers untuk perusahaan efek dan agen penjual efek reksa dana di Kalsel, serta Edukasi di Universitas Lambung Mangkurat dan STIE Pancasetia Banjarmasin.
Penyelenggaraan kegiatan sosialisasi dan edukasi tersebut juga sejalan dengan upaya bersama regulator pasar modal, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal, yaitu BEI, KPEI dan KSEI, untuk meningkatkan jumlah investor pasar modal dan meningkatkan aktivitas transaksi pasar modal.
Berdasarkan data KSEI per 30 Juni 2026, pertumbuhan investor pasar modal di Provinsi Kalsel menunjukkan tren yang positif. Kalsel merupakan Provinsi dengan jumlah investor ke-16 terbesar dari 38 provinsi di Indonesia, yaitu sebanyak 400.982 investor. Bersumber pada jumlah tersebut, Kota Banjarmasin menduduki posisi pertama dengan jumlah investor sejumlah 92.698 (23%).
Secara keseluruhan jumlah investor di pasar modal Indonesia per akhir Juni 2026 telah mencapai 28,96 juta investor, yang mencakup investor pemilik saham dan surat berharga lainnya, surat utang, reksa dana, surat berharga negara. Jumlah tersebut juga meningkat 42,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kepala Unit Administrasi Produk Investasi KSEI Soli Deo Gloria dalam acara media gathering menyampaikan, investor pasar modal di Kalsel didominasi oleh investor muda berusia kurang dari 30 tahun dan 31-40 tahun dengan total 82,15%. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan investor muda di pasar modal Indonesia yang cukup signifikan, dengan peningkatan investor usia muda sebesar 78,83% sejak tahun 2026.
"Sedangkan dari sisi pekerjaan, investor di Kalsel didominasi oleh profesi karyawan (karyawan swasta, pegawai negeri, guru, TNI/ polisi/ pensiunan) dengan total 53,67%," jelas Soli Deo Gloria.
Guna mendukung kegiatan operasional harian dan mengantisipasi pertumbuhan jumlah investor, KSEI memperkuat infrastruktur digitalnya melalui sistem The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) yang digunakan untuk pendaftaran efek, pembukaan Sub Rekening Efek (SRE), distribusi aksi korporasi dan penyelesaian transaksi.
Hingga Juni 2026, C-BEST telah mencatatkan total aset sebesar Rp7.495 Triliun, dengan jumlah efek sebesar 3.851. Selain C-BEST, terdapat juga Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) yang digunakan untuk administrasi reksa dana dan administrasi Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA) melalui Sistem Multi Investasi Terpadu (S-MULTIVEST), yang merupakan perluasan dari S-INVEST. Data yang tercatat pada S-INVEST sampai dengan Juni 2026 meliputi jumlah Asset Under Management (AUM) sebesar Rp983 Triliun, dengan jumlah produk investasi sebanyak 2.496.
Ada pun perkembangan layanan jasa KSEI yang dipaparkan narasumber meliputi transparansi perlindungan investor antara lain Single Investor Identification (SID) sebagai nomor identitas investor, Sub Rekening Efek (SRE) dan Investor Fund Account Unit (IFUA) untuk administrasi rekening investasi investor, fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes.KSEI) yang dapat digunakan untuk memantau portofolio investasi secara daring, dan Electronic General Meeting System (eASY.KSEI) untuk penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) secara daring.
Sementara itu, Kepala Unit Pengembangan Pasar KPEI Doni Irawan, menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat harus didukung oleh infrastruktur pasar modal yang kuat dan sistem pengelolaan risiko yang andal. Sebagai Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP), KPEI berperan memastikan setiap transaksi yang terjadi di Bursa Efek Indonesia dapat diselesaikan dengan aman, teratur, dan efisien melalui mekanisme kliring dan penjaminan transaksi bursa.
Menurut dia aktivitas transaksi di pasar modal Indonesia yang terus meningkat menunjukkan pentingnya keberadaan KPEI dalam menjaga kepercayaan investor. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, rata-rata nilai transaksi ekuitas harian di Bursa Efek Indonesia berada pada kisaran Rp18,6 triliun hingga Rp35,1 triliun per hari. Melalui proses kliring dan netting yang dilakukan KPEI, nilai penyelesaian transaksi dapat ditekan menjadi sekitar Rp5,9 triliun hingga Rp10 triliun per hari dengan tingkat efisiensi netting berkisar antara 62% hingga 68%.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa mekanisme kliring KPEI mampu meningkatkan efisiensi penyelesaian transaksi sekaligus mengurangi kebutuhan pendanaan dan risiko penyelesaian transaksi di pasar. KPEI hadir untuk memastikan bahwa setiap transaksi yang dilakukan investor mendapatkan kepastian penyelesaian. Melalui fungsi kliring, netting, dan penjaminan transaksi, kami menjaga agar proses transaksi di pasar modal tetap berjalan lancar meskipun terdapat potensi risiko gagal bayar maupun gagal serah. Kepercayaan investor tumbuh karena adanya kepastian bahwa transaksi dapat diselesaikan secara aman dan efisien," ujar Doni Irawan.
Dirinya juga menambahkan bahwa untuk mendukung fungsi penjaminan tersebut, KPEI didukung oleh sumber daya pengelolaan risiko yang kuat. Hingga 30 Juni 2026, total agunan yang ditempatkan Anggota Kliring di KPEI mencapai Rp90,34 triliun. Selain itu, KPEI mengelola Dana Jaminan sebesar Rp10,28 triliun sebagai salah satu instrumen utama dalam mendukung kelancaran penyelesaian transaksi bursa. Sebagai lapisan perlindungan tambahan, KPEI juga memiliki Cadangan Jaminan sebesar Rp220 miliar.
"Dukungan sumber daya keuangan tersebut memperkuat kemampuan KPEI dalam mengelola risiko penyelesaian transaksi dan menjaga stabilitas pasar, sehingga memberikan keyakinan kepada investor bahwa transaksi di pasar modal Indonesia berlangsung secara aman, teratur, dan efisien," tambah Doni Irawan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Unit Komunikasi dan Informatika Indonesia SIPF Zulrasydi Amin menyampaikan bahwa per Juni 2026, Indonesia SIPF memberikan perlindungan kepada aset investor pasar modal dengan menggunakan Dana Perlindungan Pemodal (DPP) yang telah terhimpun sebesar Rp407,49 miliar. Sedangkan jumlah aset investor yang dilindungi sampai dengan Juni 2026 adalah sebesar Rp7.209 triliun dan jumlah investor yang dilindungi sebanyak 16,6 juta investor.
Indonesia SIPF merupakan lembaga perlindungan investor di pasar modal yang memiliki fungsi seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di perbankan. Risiko yang dilindungi oleh Indonesia SIPF adalah hilangnya aset investor pada Perusahaan Sekuritas maupun Bank Kustodian. Batasan maksimal ganti rugi yang diberikan oleh Indonesia SIPF adalah Rp200 juta per investor atau Rp100 miliar per kejadian di Perusahaan Sekuritas maupun Bank Kustodian. Pada bulan September dan Oktober 2026 Indonesia SIPF akan menyelenggarakan event Investor Protection Month (IPM) 2026.
Event ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh Indonesia SIPF dan didukung oleh OJK dan SRO untuk meningkatkan awareness masyarakat dan pelaku industri pasar modal terhadap pentingnya mekanisme perlindungan investor di pasar modal Indonesia. Sejalan dengan peningkatan jumlah investor pasar modal berusia muda, maka sosialisasi dan edukasi yang diselenggarakan KSEI juga ditargetkan untuk pelajar dan mahasiswa dengan menyelenggarakan kegiatan gathering bersama Galeri Investasi BEI di Kalsel.
Pada acara Galeri Investasi gathering tersebut, Kepala Unit Administrasi Produk Investasi KSEI Soli Deo Gloria juga menyampaikan informasi terkini mengenai layanan dan pengembangan yang telah dilakukan KSEI. Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan update informasi mengenai berbagai layanan terbaru KSEI diharapkan dapat diteruskan dengan tepat kepada para mahasiswa di lokasi Galeri Investasi, terutama yang telah menjadi investor pasar modal Indonesia. Selain kepada media dan perwakilan pengurus Galeri Investasi, KSEI juga menggandeng perusahaan efek di Kota Banjarmasin sebagai target sosialisasi selanjutnya.
Melalui kegiatan training for trainers, KSEI berupaya meningkatkan pemahaman staf perusahaaan efek seputar informasi layanan dan pengembangan di pasar modal khususnya di KSEI. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Unit Administrasi Produk Investasi KSEI Soli Deo Gloria menyampaikan beberapa program strategis dan pengembangan KSEI sesuai dengan inovasi digital dan perkembangan teknologi.
Inovasi tersebut antara lain platform layanan administrasi prinsip mengenali nasabah (LAPMN) atau know your customer (KYC) melalui peluncuran Centralized Investor Data Management System (CORES.KSEI). Dengan CORES.KSEI, pemakai jasa dan investor pasar modal dapat menggunakan platform terpusat untuk digitalisasi data dan dokumen KYC nasabah, sehingga pada proses pembukaan rekening berikutnya dapat dilakukan sharing data KYC dan tidak diperlukan dokumen berulang.
Rencana strategis lain yang telah berhasil dilakukan KSEI adalah pengembangan aplikasi khusus pengelolaan dana untuk transaksi reksa dana yakni KSEI Cash Management System (K-CASH). Aplikasi K-CASH bertujuan untuk memberi kemudahan investor bertransaksi reksa dana. K-CASH dapat menyediakan mekanisme pengganti virtual account dengan menggunakan IFUA sebagai penyimpanan dana investor untuk transaksi reksa dana. Penggunaan IFUA juga dapat memberikan transparansi posisi dana selama proses transaksi karena dapat dipantau langsung oleh investor.
Melalui program sosialisasi dan edukasi pasar modal yang dilakukan di Provinsi Kalsel, khususnya di Kota Banjarmasin, maka seluruh peserta yang telah berpartisipasi dapat semakin memahami perkembangan pasar modal terbaru. Informasi tersebut diharapkan juga dapat diteruskan kepada masyarakat secara luas melalui berbagai media yang tersedia termasuk media massa.
Sumber: Rilis BEI Kalsel
