![]() |
PERIKSA LANSIA: Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah orang lanjut usia (lansia) – Foto Net |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Sebanyak 4,36 juta orang lanjut usia (lansia) mengalami hipertensi. Data ini diungkap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berdasarkan Hasil program cek kesehatan gratis (CKG) terhadap 6,8 juta lansia.
Angka di atas disebut sebagai kondisi yang dinilai membutuhkan intervensi terintegrasi dan berkelanjutan agar penanganannya lebih optimal.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan secara global diperkirakan terdapat 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi. Namun, hanya sekitar satu dari empat penderita yang tekanan darahnya terkontrol.
Tren penuaan populasi dan urbanisasi ikut menyumbang beban kasus hipertensi semakin besar, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang masih memiliki tingkat pengendalian tekanan darah rendah.
“Hipertensi pada lansia memiliki konsekuensi klinis dan sosial yang berat. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko strok, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis,” ujar Imran, dikutip dari Antara, Senin (18/5/2026).
“Bukti epidemiologis juga mengaitkan hipertensi jangka panjang dengan percepatan penurunan kognitif dan peningkatan kebutuhan perawatan jangka panjang,” tambahnya.
Tingginya prevalensi hipertensi pada peserta skrining lansia juga disertai besarnya proporsi gangguan mobilitas. Akibatnya, masalah kesehatan tersebut dapat berkembang menjadi persoalan fungsional dan ekonomi bagi keluarga maupun sistem kesehatan.
Imran menekankan, maka dari itu upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi tidak cukup hanya melalui pemberian obat. Penanganan juga perlu mencakup program rehabilitasi, dukungan bagi caregiver, serta skema pembiayaan yang mampu melindungi lansia kurang mampu.
Menurut Kemenkes, pencegahan hipertensi paling efektif dilakukan sejak dini melalui skrining tekanan darah rutin mulai usia 18 tahun dan pemeriksaan tahunan, terutama bagi lansia.
“Intervensi yang terbukti menurunkan risiko meliputi pengurangan garam menjadi kurang dari 5 gram per hari, aktivitas fisik minimal 150 menit intensitas sedang per minggu, pengendalian berat badan, pola makan sehat, pembatasan alkohol, dan berhenti merokok,” tegas Imran.
Ia menambahkan, deteksi dini dan penanganan di layanan kesehatan primer dapat mengurangi risiko komplikasi seperti strok, penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hingga penurunan fungsi kognitif.
Pada lansia, pendekatan penanganan perlu disesuaikan untuk menghindari hipotensi ortostatik serta melibatkan pemantauan organ target dan rehabilitasi fungsional.
Sumber: beritasatu.com/antara

