![]() |
PEKERJA MIGRAN: Jajaran Disnaker Banjarbaru berbincang dengan 4 Calon Pekerja Migran yang akan diberangkatkan bekerja ke Jepang – Foto Ist |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru kembali memberangkatkan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) asal Banjarbaru untuk bekerja ke Jepang.
Pelepasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemko Banjarbaru dalam membuka peluang dan memperluas peluang kerja ke luar negeri bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Kerja, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Banjarbaru, Dzhoelhida Rahma Astuti, mengatakan keberangkatan kali ini merupakan yang pertama untuk skema pekerja mandiri di bidang tertentu.
Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang fokus pada bidang keperawatan, pemberangkatan kali ini merambah ke sektor pertanian dan restoran.
Adanya jalur penempatan mandiri memberikan fleksibilitas bagi tenaga kerja profesional untuk memilih bidang yang sesuai minat mereka.
“Untuk keberangkatan kali ini ada empat CPMI yang akan langsung bekerja di Jepang dalam bidang sektor pertanian dan ini yang pertama kali,” ucapnya saat pelepasan CPMI di ruang tamu Wali Kota Banjarbaru, Senin (6/4/2026).
Dzhoelhida mengatakan, Pemko Banjarbaru juga telah memberikan dukungan melalui pelatihan bahasa Jepang sejak 2023, mengingat kemampuan bahasa menjadi salah satu syarat utama untuk bekerja di Jepang.
“Untuk jalur pendidikan dan pemagangan sudah berjalan sejak awal 2024. Gelombang pertama di bidang keperawatan telah selesai dan pesertanya kini bekerja tetap di Jepang, sedangkan gelombang kedua telah diberangkatkan pada akhir Maret,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan tingginya minat masyarakat terhadap program ini, terutama dari kalangan anak muda.
“Antusiasmenya tinggi. Waktu kami buka kuota 40 orang, peminatnya melebihi itu. Banyak yang tertarik karena melihat peluang dan pendapatan di Jepang cukup besar,” ungkapnya.
Salah satu CPMI, Hendra, mengaku tertarik bekerja di Jepang karena budaya disiplin yang diterapkan di negara tersebut.
“Saya suka dengan kedisiplinan di Jepang, jadi ingin belajar dan meniru hal itu,” ujarnya.
Ia menyebut telah menjalani pelatihan bahasa Jepang selama enam bulan, serta menunggu proses keberangkatan hingga lebih dari satu tahun.
“Pelatihan sekitar enam bulan, tapi total proses sampai berangkat bisa lebih dari satu tahun,” katanya.
Hendra dijadwalkan berangkat pada 8 April 2026 dan akan bekerja di sektor pertanian serta restoran dengan sistem kontrak kerja tahunan.
Penulis: P. Silitonga

