![]() |
MOTOR LISTRIK: Warga semakin meminati penggunaan sepeda motor listrik – Foto Net |
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Minat masyarakat terhadap sepeda motor listrik mengalami peningkatan. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mencatat peningkatan ini terjadi di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu konflik global yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, yang berdampak pada jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz.
Public Relation and Event Executive Aismoli, Riniwaty Sinaga mengatakan, lonjakan minat terlihat dari peningkatan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe (SRUT) kendaraan listrik.
"Aismoli mengonfirmasi adanya peningkatan minat terhadap sepeda motor listrik, terutama sejak terjadinya kenaikan harga BBM imbas konflik di Selat Hormuz," ujar Rini, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, pada Januari dan Februari 2026 masing-masing diterbitkan 3.565 dan 3.066 SRUT untuk sepeda motor listrik. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 2.103 dan 2.158 unit.
Secara keseluruhan, terjadi kenaikan hingga 56% dalam penerbitan SRUT, yang mencerminkan meningkatnya kesiapan pasokan kendaraan listrik di pasar.
Rini menambahkan, penerbitan SRUT umumnya dilakukan oleh agen pemegang merek (APM) ketika terdapat indikasi permintaan atau pemesanan dari konsumen.
"SRUT diurus APM ketika ada penjualan atau indikasi penjualan (booking)," katanya.
Namun, peningkatan minat tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan realisasi pembelian kendaraan listrik.
"Ini tren yang positif, meski belum merata di seluruh pasar. Namun, Aismoli mencatat bahwa peningkatan ini masih banyak berada pada tahap eksplorasi," ujarnya.
Menurut Rini, keputusan konsumen untuk membeli motor listrik masih dipengaruhi sejumlah faktor, seperti harga awal kendaraan, akses pembiayaan, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
"Harga awal kendaraan, akses pembiayaan, dan kesiapan infrastruktur masih menjadi hambatan nyata, khususnya bagi segmen pengguna roda dua yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah," jelasnya.
Ia menilai momentum kenaikan harga BBM seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong transisi ke kendaraan listrik secara lebih luas.
"Tantangan ke depan adalah mengonversi momentum ini menjadi adopsi jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat," pungkasnya.
Sumber: beritasatu.com

