Komisi II DPRD Kalsel Pantau Transformasi Bank Kalsel Jadi Bank Devisa

KUNJUNGAN KERJA: Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel, H. Suripno Sumas didampingi Anggota Komisi II DPRD Kalsel, Firman Yusi mengunjungi Kantor Cabang Bank Kalsel Jakarta untuk mengetahui langsung kesiapan Bank Kalsel dalam proses transformasi menjadi bank devisa – Foto DPRD Kalsel 


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Kesiapan Bank Kalsel dalam proses transformasi menjadi bank devisa mendapat pantauan dari Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Komisi yang membidangi Ekonomi dan Keuangan ini ingin mengetahui langsung kesiapan teknis, operasional, dan strategi pengembangan bisnis perbankan daerah tersebut melalui kunjungan kerja ke Kantor Cabang Bank Kalsel Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel, H. Suripno Sumas menegaskan, pengawasan ini merupakan bagian dari tugas dan fungsi DPRD di bidang ekonomi dan keuangan, khususnya untuk memastikan kesiapan Bank Kalsel dalam menjalankan arahan pemerintah menuju status bank devisa. Menurutnya, langkah tersebut memiliki nilai strategis dan berpotensi memperkuat perekonomian daerah dan meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menanggapi hal itu, Kepala Divisi Dana dan Digital Bank Kalsel, Suwanto menjelaskan bahwa pada Juni 2025 Bank Kalsel telah mengajukan persyaratan menjadi bank devisa kepada OJK. 

"Secara substansial, persyaratan administratif telah terpenuhi, namun terdapat 53 rekomendasi teknis yang harus ditindaklanjuti, mulai dari penguatan teknologi informasi, sumber daya manusia, hingga kesiapan operasional. Hingga laporan progres per Maret 2026 yang disampaikan pada April, capaian tindak lanjut telah berada pada angka rata-rata 74 persen," katanya.

Ia menyebutkan, target penyelesaian seluruh rekomendasi tersebut ditetapkan pada akhir Mei 2026, yang kemudian akan dilanjutkan dengan simulasi kesiapan layanan melalui skema mini bank di Cabang Utama Banjarmasin, Cabang Jakarta, dan Cabang Batulicin. Simulasi tersebut merupakan salah satu upaya untuk memastikan kesiapan layanan devisa, mulai dari transaksi valuta asing, remitansi internasional, hingga dukungan transaksi ekspor-impor.

Sementara itu, Kepala Cabang Bank Kalsel Jakarta, Muhaimi Ahyat memaparkan bahwa asesmen kesiapan cabang Jakarta telah dilakukan oleh Tim Bank Devisa pada 5-6 November 2025, meliputi infrastruktur, sumber daya manusia, serta sistem dan proses transaksi devisa. 

Hasil asesmen menunjukkan infrastruktur utama seperti mesin sortir uang valuta asing, jaringan core banking, serta sistem informasi kurs telah tersedia dan siap digunakan. 

Namun demikian, masih diperlukan penguatan pelatihan berkelanjutan, peningkatan koordinasi dengan unit teknologi informasi, serta penyelarasan praktik operasional agar implementasi layanan devisa dapat berjalan optimal.

Muhaimi optimistis, status bank devisa akan menjadi pintu masuk pengembangan bisnis Bank Kalsel yang lebih luas. Terlebih, dengan potensi Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dari Kalimantan Selatan yang cukup besar, peluang penghimpunan dana akan semakin terbuka. Dana hasil ekspor dari sektor pertambangan, perkebunan, dan sumber daya alam lainnya yang wajib ditempatkan di sistem keuangan nasional dinilai dapat menjadi sumber likuiditas baru apabila dikelola melalui Bank Kalsel.

Sementara iut, Anggota Komisi II DPRD Kalsel, Firman Yusi menilai status bank devisa menjadi peluang strategis agar potensi DHE SDA Kalimantan Selatan tidak hanya berputar di perbankan nasional, tetapi juga dapat masuk dan dikelola oleh bank milik daerah.

Menurutnya, apabila dana hasil ekspor itu bisa dihimpun melalui Bank Kalsel, maka akan memperkuat likuiditas bank, meningkatkan laba perusahaan, dan berdampak langsung pada peningkatan dividen yang menjadi bagian dari PAD.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Suripno mengungkapkan Komisi II DPRD Kalsel akan mengundang Bank Indonesia untuk melakukan audiensi di DPRD Kalsel. 

Audiensi itu bertujuan memperdalam pembahasan terkait potensi pengelolaan DHE SDA, mekanisme perbankan devisa, serta peluang strategis yang dapat dimanfaatkan daerah melalui penguatan peran Bank Kalsel. 

Menurutnya, sinergi dengan Bank Indonesia penting agar transformasi Bank Kalsel menuju bank devisa dapat berjalan optimal dan memberi dampak nyata bagi peningkatan PAD serta kesejahteraan masyarakat Banua.

Sumber: DPRD Kalsel

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال