Setelah Hormuz, Giliran Bab al-Mandeb Terancam Ditutup, Pakar: Dampaknya Bisa Guncang RI

TUTUP SELAT: Iran telah menutup selat Hormus dan sekutunya kelompok Houthi Yaman juga berencana menutup selat Bab al-Mandeb – Foto ndtv.com


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Krisis energi kembali mengancam dunia termasuk Indonesia. Setelah penutupan selat Hormuz oleh Iran, kini giliran selat Bab al-Mandeb yang meghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden yang terancam ditutup oleh kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran.

Pakar ekonomi dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan, penutupan Selat Bab al-Mandeb, menyusul penutupan Selat Hormuz, akan berpengaruh besar terhadap perdagangan global dan juga berpotensi mengguncang perekonomian Indonesia.

“Pengaruhnya akan sangat besar karena pasar energi global bisa terkena tekanan dari dua chokepoint sekaligus (Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz),” ungkap Syafruddin saat dihubungi Republika, Senin (30/3/2026).

Ia menerangkan, Selat Hormuz sudah sangat penting karena menyalurkan lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia lewat laut dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum global. Selat Bab al-Mandeb juga bukan jalur kecil. EIA mencatat selat itu menampung sekitar 12 persen perdagangan minyak laut dan 8 persen perdagangan LNG dunia pada paruh pertama 2023.

Syafruddin menuturkan, jika Houthi benar-benar menutup Selat Bab al-Mandeb saat Selat Hormuz juga terganggu, kapal harus memutar lebih jauh, biaya asuransi melonjak, waktu pengiriman bertambah, dan harga energi akan melonjak lebih cepat.

“Dalam situasi seperti itu, masalahnya bukan hanya minyak mahal, tetapi juga pasokan yang terlambat, logistik yang macet, dan volatilitas harga yang makin liar. Bagi Asia, ini jauh lebih berbahaya karena kawasan ini berada di garis depan ketergantungan impor energi dari Timur Tengah,” terangnya.

Syafruddin berpandangan, dampak penutupan Selat Bab al-Mandeb bagi Indonesia bersifat langsung dan berlapis. Sebab, Indonesia masih rentan karena impor migas 2024 mencapai sekitar 36,28 miliar dolar AS, sehingga setiap kenaikan harga minyak dan gangguan pengiriman akan cepat memperbesar tagihan impor energi.

“Dari situ tekanannya merambat ke inflasi impor, ongkos logistik, harga pangan, biaya produksi industri, subsidi energi, APBN, dan rupiah,” ujarnya.

Lantas, jika perang memanjang dan dua jalur laut strategis sama-sama terganggu, harga BBM nonsubsidi akan makin mudah naik. Sementara harga BBM subsidi akan makin mahal untuk ditahan.

“Dalam kondisi itu, pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak dana untuk kompensasi energi atau menerima risiko pelebaran defisit,” lanjutnya.

Kemudian, dunia usaha juga akan menghadapi biaya distribusi yang lebih tinggi. Sementara rumah tangga akan merasakan tekanan pada daya beli.

“Jadi, perang di Timur Tengah tidak berhenti sebagai berita luar negeri. Perang itu bisa berubah menjadi shock energi, shock fiskal, dan shock biaya hidup bagi Indonesia,” tegasnya.

Diketahui, kelompok Houthi Yaman dikabarkan akan menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudera Hindia, serta menjadi jalur utama perdagangan antara Asia, Afrika, dan Eropa. Upaya tersebut sebagai bentuk dukungan Houthi kepada Iran dalam perang melawan AS dan Israel.

Houthi telah bergabung dalam peperangan dengan menembakkan rudal ke Israel pada Sabtu (28/3/2026). Penyerangan tersebut membuat perang di Timur Tengah berpotensi semakin panas. Pimpinan Houthi menyampaikan, langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada Israel dan AS.

Perang antara Iran dan AS dan Israel diketahui telah terjadi sejak 28 Februari 2026. Memasuki pekan kelima saat ini, peperangan masih terus bergulir dan menyebabkan kondisi ketidakpastian global semakin tinggi.

Sumber: Republika

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال