![]() |
Kepala Bidang Hortikultura, Amir Salhan – Foto MC Kalsel |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - Para mantri tani dan penyuluh di kabupaten/kota di Kalimantan Selatan didorong untuk bisa mengoptimalkan penggunaan aplikasi Statistik Pertanian Hortikultura berbasis Computer-Assisted Web Interviewing (SPH-CAWI).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman melalui Kepala Bidang Hortikultura, Amir Salhan, menyampaikan bahwa selama ini proses pengumpulan data hortikultura masih dilakukan secara manual. Hal tersebut dinilai kurang efektif dan berpotensi menimbulkan perbedaan data antar instansi.
“Dengan hadirnya aplikasi SPH-CAWI, kita berupaya melakukan pengumpulan data secara online berbasis web. Ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi data hortikultura,” ujarnya dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti mantri tani dan penyuluh, Selasa (31/3/2026).
Menurut Amir, penerapan aplikasi ini juga bertujuan mewujudkan prinsip satu data pertanian. Dengan demikian, data yang digunakan oleh berbagai pihak, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga Kementerian Pertanian, akan seragam dan tidak lagi berbeda-beda.
“Ke depan, semua pihak menggunakan sumber data yang sama. Jadi tidak ada lagi perbedaan antara data statistik, dinas pertanian kabupaten/kota, maupun provinsi,” jelasnya.
Ia menambahkan, tahun 2026 menjadi momentum awal penerapan aplikasi SPH-CAWI secara lebih luas. Oleh karena itu, pihaknya mengundang seluruh mantri tani dan penyuluh untuk mendapatkan pemahaman teknis terkait penginputan data hortikultura secara online.
Selain penguatan sistem data, Pemprov Kalsel juga terus mendorong pengembangan sektor hortikultura, khususnya komoditas strategis yang berpengaruh terhadap inflasi seperti bawang, cabai, tanaman hias, dan buah-buahan unggulan daerah.
Namun demikian, Amir mengakui bahwa tantangan efisiensi anggaran pada tahun 2025 hingga 2026 turut berdampak pada pengembangan sektor tersebut di tingkat kabupaten/kota.
“Dengan adanya efisiensi anggaran, ruang gerak di daerah menjadi terbatas. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap luas tanam dan produksi, meskipun kita tetap berupaya agar hasil produksi bisa meningkat,” ungkapnya.
Melalui pemanfaatan aplikasi SPH-CAWI dan sinergi antar pemangku kepentingan, diharapkan pengelolaan data hortikultura di Kalimantan Selatan menjadi lebih akurat, terintegrasi, dan mampu mendukung pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.
Sumber: MC Kalsel

