![]() |
TELESKOP: Seorang peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss di Observatorium Bosscha yang masih berfungsi dengan baik setelah 80 tahun – Foto itb.ac.id |
BORNEOTREND.COM, BANDUNG - Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan, posisi hilal pada Kamis (19/3/2026) belum memenuhi kriteria hilal dari Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dimana menurut kriteria baru MABIMS yang ditetapkan sejak 2022, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Dilansir dari laman Bosscha ITB, Senin (16/3/20265), dikutip Selasa (17/3/2026), berdasarkan hasil perhitungan posisi Bulan terhadap Matahari pada tanggal 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi Bulan berada sangat dekat dengan Matahari di langit barat saat Matahari terbenam.
Parameter geometri Bulan menunjukkan elongasi geosentrik (jarak sudut Bulan terhadap Matahari dilihat dari pusat Bumi) di wilayah Indonesia berkisar antara sekitar 4,6 hingga 6,2 derajat, dari wilayah timur hingga barat. Sementara itu, elongasi toposentrik (jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi) berada pada kisaran sekitar 4,0 hingga 5,5 derajat.
Ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga relatif rendah. Peta ketinggian Bulan menunjukkan ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara 0 hingga 3 derajat di atas ufuk di wilayah Indonesia bagian barat.
Kondisi ini menandakan Bulan berada dekat dengan Matahari di langit barat dan berada pada ketinggian yang rendah di atas ufuk.
Secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati, sehingga keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan.
Belum Penuhi Syarat MABIMS
Dilihat dari perhitungan Bosscha soal elongasi geosentrik yang maksimal 6,2 derajat dan elongasi toposentrik yang maksimal 5,5 derajat, maka hasil perhitungan hilal belum memenuhi kriteria MABIMS yang mensyaratkan sudut elongasi 6,4 derajat.
Begitupun ketinggian hilal yang menurut perhitungan Bosscha antara 0 sampai 3 derajat, sementara syarat MABIMS minimal 3 derajat.
Namun demikian, Bosscha menyerahkan hasilnya pada sidang isbat yang digelar Pemerintah pada Kamis 19 Maret 2026 lusa.
"Di Indonesia, pihak yang berwenang menentukan awal bulan Hijriah yang penting, termasuk Syawal, adalah Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dalam proses sidang isbat yang akan diselenggarakan pada 19 Maret 2026. Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang isbat," demikian tulis Bosscha.
Sumber: detik.com

