Wejangan ‘Ngabuburit’: Kecipak Ikan, Riang Domba, dan Hidangan Berbuka

SAJIAN: Penampakan hidangan yang disuguhkan oleh Deboekit Riverside Resort - Foto Dok Istimewa

BORNEOTREND.COM, KALTIM – Mentari sore di Balikpapan Timur tak pernah main-main. Teriknya menyengat, memantul di aspal jalanan yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan pinggiran. Namun, cerita berubah ketika roda kendaraan berbelok ke kiri, tak jauh dari pintu keluar Tol Manggar.

Sekitar satu kilometer menyusuri jalan akses yang lebih kecil, hiruk-pikuk kota minyak itu perlahan luruh. Di sudut yang lebih sunyi, sebuah oasis menenangkan menanti: Deboekit Riverside Resort.

Bagi warga Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, mencari tempat untuk sekadar menunggu azan Maghrib atau yang populer disebut ngabuburit kerap berakhir di pusat perbelanjaan atau pantai yang itu-itu saja. Namun di tepian Sungai Manggar, definisi ngabuburit menemukan bentuk lain: kepulangan pada alam.

Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di satu sudut, sekumpulan domba berbulu tebal tampak antusias menyambut pengunjung. Di sudut lain, seseorang duduk tenang memegang joran, menatap kolam, menanti sambaran ikan sambil merapal zikir atau membayangkan menu berbuka.

Ekowisata di Tepi Sungai

PANORAMA: Lokasi Deboekit Riverside Resort yang terletak di tepi sungai - Foto Dok Istimewa

Memasuki kawasan Deboekit, pengunjung tidak langsung disuguhi kemewahan artifisial, melainkan lanskap yang menyatu dengan topografi asli. Kawasan wisata terpadu ini mencoba mengawinkan rekreasi alam dengan sport tourism air.

Direktur Deboekit, Devi Indah Noviarini, menyebut resort ini lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang publik berkualitas dan edukatif di Balikpapan.

“Deboekit hadir untuk menjawab kebutuhan akan destinasi wisata yang berkualitas, ramah lingkungan, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Sungai Manggar memiliki potensi besar yang ingin kami angkat melalui konsep wisata berkelanjutan,” ujarnya.

Konsep eco-resort yang diusung bukan sekadar jargon. Restorasi lahan dilakukan agar tanah kembali produktif dan bernilai ekonomi. Bangunan vila tak mendominasi lanskap, melainkan menyusup di antara pepohonan.

Tersedia 22 unit kamar—mulai tipe Superior, Deluxe, Honeymoon Suite, hingga Family Villa. Desainnya terinspirasi kekayaan vernakular Kalimantan Timur, dengan dominasi ornamen kayu yang menciptakan suasana hangat.

Tarifnya berkisar Rp800.000 hingga Rp3.500.000 per malam, menyasar keluarga, pasangan, hingga korporasi yang membutuhkan ruang berpikir jernih. Pada Ramadan tahun ini, pengelola memberi diskon 50 persen untuk seluruh kamar dan vila.

Di Antara Bekantan

SERU: Salah satu pemandangan yang bisa didapatkan oleh pengunjung Deboekit Riverside Resort - Foto Dok Istimewa


Daya tarik utama kawasan ini justru berada di luar kamar. Sungai Manggar, yang selama ini dikenal sebagai jalur transportasi air dan habitat buaya muara, kini menjadi arena sport tourism.

Pengunjung dapat mencoba jet ski, paddling, atau susur sungai dengan kapal wisata. Saat matahari condong ke barat, momen magis sering terjadi. Di dahan bakau seberang sungai, kawanan bekantan kerap menampakkan diri.

Primata endemik Kalimantan, Bekantan (Nasalis larvatus), melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan latar langit senja—kemewahan visual yang tak bisa direkayasa.

Menurut Aisyah Akmal, pengelola sekaligus ujung tombak pemasaran, pengalaman berinteraksi dengan alam inilah yang menjadi kekuatan utama.

“Area khusus menikmati panorama matahari terbenam dirancang agar pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan,” tuturnya.

Di darat, area peternakan mini menjadi magnet bagi anak-anak. Memberi makan domba atau menunggang kuda menjadi terapi setelah seharian berpuasa. Interaksi dengan hewan—menurut banyak studi psikologi—mampu menurunkan stres, sebuah wejangan tanpa kata bagi kaum urban yang lelah.

Zero Waste dan Farm to Table

Salah satu aspek menarik adalah sistem pengelolaan limbahnya. Deboekit menerapkan prinsip zero waste. Sampah organik restoran diolah menjadi pakan maggot, yang kemudian menjadi pakan ikan dan unggas budidaya.

Ikan-ikan inilah yang kembali ke meja makan pengunjung—sebuah siklus farm to table yang menjamin kesegaran. Pengunjung bahkan bisa memancing sendiri bandeng, barramundi, atau kakap putih untuk dimasak langsung oleh koki resort.

Dari sekitar 30 tenaga kerja, 30 persennya warga lokal Manggar. Pengelolaan parkir pun diserahkan kepada warga dan pengurus masjid setempat. Model bisnis ini menjadikan masyarakat bagian dari ekosistem, bukan sekadar penonton.

Perayaan Kuliner Berbuka

Saat azan Maghrib berkumandang, suasana berubah hangat. Lampu-lampu gantung menyala, memantul di permukaan sungai.

Ramadan kali ini, Deboekit menghadirkan Special Buffet Buka Puasa dengan dua paket:

  1. Package 1 (Rp195.000 nett/orang) – Termasuk akses ke Food Star (menu spesial harian seperti Kambing Guling atau Barbeque).
  2. Package 2 (Rp145.000 nett/orang) – Akses prasmanan nusantara tanpa Food Star.

Menu berotasi setiap hari: Ayam Taliwang, Ikan Asam Padeh, Ayam Bakar Solo, hingga Ayam Tangkap Aceh. Takjil tersaji lengkap dari kurma, gorengan, bubur sumsum, kolak pisang disusul Bakso Malang, Soto Ayam, hingga Tom Yam.

Kesegaran Es Dawet dan Es Timun Suri menjadi penutup yang menenangkan.

Promo Early Bird serta skema Buy 5 Get 1 dan Buy 10 Get 2 disiapkan untuk rombongan keluarga atau buka bersama kantor.

Restoran apung menjadi lokasi favorit. Menyantap hidangan sembari merasakan goyangan lembut sungai dan angin malam beraroma bakau menghadirkan sensasi spiritual sekaligus gastronomis.

Di tengah geliat pembangunan Kalimantan Timur, tempat seperti Deboekit menawarkan jeda. Ia mengingatkan bahwa di balik deru mesin pembangunan, masih ada sungai yang mengalir tenang, ada bekantan yang membutuhkan rumah, dan ada manusia yang perlu merawat kembali hubungannya dengan alam.

Jika mencari tempat menepi sejenak di bulan suci ini, arahkan kendaraan ke timur. Di tepi Sungai Manggar, wejangan itu hadir bukan lewat kata-kata, melainkan lewat desau angin, kecipak ikan, dan hangatnya hidangan berbuka yang dimasak dengan kesadaran penuh akan lingkungan.

Penulis: Agustina 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال