![]() |
Ilustrasi – Waspada penyebaran wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah – Foto Net
BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah menyebar di India. Hampir 100 orang diminta melakukan karantina di rumah. Dua perawat yang bekerja di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, rumah sakit swasta yang berlokasi di Barasat, Bengal Barat, sekitar 16 mil dari Kolkata juga terpapar virus Nipah dan salah satunya dalam kondisi kritis. Virus mematikan ini juga telah menyebar di sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan dan skrining terhadap pelaku perjalanan dari India menyusul munculnya kembali kasus infeksi virus Nipah di negara tersebut.
Menurut Prof Tjandra, langkah ini penting mengingat cukup banyaknya kunjungan warga India ke Indonesia, termasuk dari wilayah yang saat ini terdampak kasus, seperti Kalkuta dan negara bagian West Bengal.
"Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," ujar Prof Tjandra dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, Indonesia juga perlu terus memantau secara ketat perkembangan penularan virus Nipah, tidak hanya di India tetapi juga di negara-negara tetangga.
"Kita di Indonesia baiknya juga waspada dan mengikuti secara ketat perkembangan penularan yang ada, baik di India maupun di berbagai negara tetangga," katanya.
Selain penguatan skrining di pintu masuk negara, Prof Tjandra menekankan pentingnya peningkatan koordinasi dengan organisasi dan jejaring kesehatan internasional, khususnya WHO kawasan Asia Tenggara (SEARO) dan Pasifik Barat (WPRO).
"Koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO) dan juga Pasifik Barat (WPRO) tentu perlu ditingkatkan, juga pengaktifan kegiatan ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases), apalagi Indonesia memegang peran deteksi dan asesmen risiko di ACPHEED ini," jelasnya.
Diketahui, virus Nipah merupakan penyakit zoonotik berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat spesifik. Di India, kasus terbaru menunjukkan adanya penularan antarmanusia, sehingga meningkatkan risiko penyebaran lintas negara.
Prof Tjandra mengingatkan, kewaspadaan di pintu masuk negara menjadi kunci penting untuk mencegah masuknya kasus ke Indonesia. "Deteksi dini dan pengawasan ketat jauh lebih baik daripada terlambat menangani ketika kasus sudah muncul di dalam negeri," tegasnya.
Berikut tujuh fakta tentang virus Nipah yang perlu diwaspadai:
1. Virus RNA dari Genus Henipavirus
Penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah yang termasuk ke dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Pembawanya adalah fruit bat atau kelelawar buah.
Penyakit virus Nipah pertama kali diidentifikasi berdasarkan laporan wabah yang terjadi pada peternak babi di sebuah desa di Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999 yang berdampak hingga Singapura. Dari wabah tersebut, dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian seperti mengutip laman Kemenkes.
2. Cara Penularan Virus Nipah
Penularan virus Nipah dari hewan ke manusia dengan cara kontak langsung. Lalu, bisa juga penularan dari kotoran seperti urine kelelawar dan juga air liur kelelawar.
"Kotoran atau air liur mencemari atau mengontaminasi buah atau kelapa sawit, atau kontak dengan hewan dengan babi," kata epidemiolog Dicky Budiman dalam pesan suara yang diterima Health Liputan6.com.
Dicky mengatakan penularan virus antar manusia bisa terjadi. Penularan biasanya melalui cairan tubuh. "Kontak erat cairan tubuh terutama pada saat perawatan pasien atau keluarganya ya kontak erat juga," kata Dicky.
3. Gejala Virus Nipah Diawali Demam dan Sakit Kepala
Dicky mengatakan gejala klinis virus Nipah bisa bervariasi. Di fase awal, gejala yang muncul demam dan sakit kepala atau mirip dengan gejala flu (flu like syndrome).
Pada fase lebih lanjut, pasien bisa mengalami kesulitan bernafas, pneumonia, radang paru, sampai gangguan neurologis. Bahkan pada beberapa pasien bisa sampai radang otak atau encefalitis yang bisa menyebabkan orang jadi bingung, kejang sampai koma.
4. Angka Kematian Virus Nipah Tinggi
Dicky mengatakan pada kasus berat, angka kematian orang yang terinfeksi virus nipah tinggi, bisa mencapai 75 persen.
"Kematian sering terjadi dalam beberapa hari setelah onset pada kasus berat. Case fatality rate paling rendah itu 40 persen dan paling tinggi 75 persen. Ini artinya 4 dari 10 meninggal," katanya.
5. Pengobatan, Belum Ada Terapi Spesifik
Belum ada terapi obat spesifik bila orang terinfeksi virus Nipah. "Jadi tata laksana pengobatannya ya suportif untuk mengontrol gejala lalu pada sebagian kasus perlu masuk ICU," kata Dicky.
6. Pencegahan
Upaya mencegah terinfeksi virus Nipah dengan cara pengendalian kontak hewan dan manusia. Salah satunya hindari mengonsumsi buah yang mungkin terkontaminasi kelelawar. Jadi, bila seseorang ke hutan pastikan buah dicuci bersih, lalu tangan juga bersih.
Kemudian, lanjut Dicky, jauhkan hewan peliharaan dari area kelelawar berkumpul. Lalu, Dicky juga mengingatkan pemerintah untuk melakukan upaya pencegahan dan kontrol. Bila ada kasus yang mencurigakan, perlu segera melakukan isolasi suspek. Termasuk, petugas kesehatan yang memeriksa harus menggunakan alat pelindung diri yang lengkap.
7. Potensi Virus Nipah Jadi Pandemi Rendah
Dicky yang juga peneliti global health security ini mengungkapkan potensi virus nipah menjadi pandemi rendah. Karena penularan antar manusia harus kontak dekat baru tertular dan tidak menyebar lewat udara. Lalu, kasus wabah cenderung bersifat klaster lokal sejauh ini.
"Skala secara global potensi virus nipah menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernapasan seperti SARS-CoV-2," kata Dicky."Jadi saya melihat ya potensi pandeminya rendah sekali ya," tegasnya.
Sumber: detik.com/liputan6.com
