Safari Politik Jokowi Belum Berdampak, Elektabilitas PSI Masih 1,8 Persen

TERIMA GELAR: Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat kehormatan Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung di Rumah Adat Lampung Kedatun Keagungan, Kelurahan Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, beberapa waktu lalu - Foto kompas.com 


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Manuver Jokowi yang belakangan gencar melakukan kunjungan ke berbagai daerah atau safari politik, usai dari Lampung berlanjut ke Nusa Tenggara Timur, pekan kemarin ia berkunjung ke Kebumen, Jawa Tengah dinilai  belum memperlihatkan hasil yang nyata secara elektoral. Hal ini tecermin dari elektabilitas partai yang terafiliasi dengannya, yakni Partai Sosialus Indonesia (PSI).

Partai berlambang gajah yang kini dipimpin oleh anak bungsu Jokowi tersebut tercatat masih terpuruk dengan perolehan dukungan hanya sebesar 1,8 persen.

Sementara itu, untuk tingkat elektabilitas personal Jokowi, pihak Median belum melakukan pengukuran dalam survei terbarunya.

Alasannya, konstitusi tidak memungkinkan Jokowi untuk mencalonkan diri kembali sebagai presiden pada Pemilu 2029 mendatang.

"Mungkin lain kali kami akan melakukan survei khusus untuk melihat berapa besar pengaruh politik Jokowi yang sebenarnya," jelas Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, Selasa (1/9/2026).

Terkait kunjungan ke berbagai daerah, Rico mengendus langkah politik Jokowi ini dinilai sebagai upaya kuat Jokowi untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai basis pendukung utamanya.

Indikasi tersebut terlihat jelas saat Jokowi menghadiri peringatan Maulid Nabi di salah satu pesantren tertua di Jawa, yakni Pesantren Somalangu (Sumber Adi) di Kebumen, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

"Analisa saya, Jokowi ingin menguasai Jawa Tengah setelah Dedi Mulyadi terlihat kuat di Jawa Barat," ungkap Rico Marbun.

Berdasarkan analisis pidato-pidatonya di Jawa Tengah, Rico menilai Jokowi berkehendak menguasai wilayah Jawa sekaligus mempertahankan citranya sebagai pemimpin pengayom.

"Dia ingin terus mencitrakan diri sebagai pemimpin pengayom dengan mengatakan 'kalau sakti tidak untuk membunuh', dan yang paling penting dia menegaskan tetap bersama rakyat kecil," tambahnya.

Sumber: Warta Ekonomi

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال