Kabut Asap di Barabai: Ancaman Yang Kerap di Anggap Biasa

 


Oleh: Nabila Nur Afifah


SETIAP musim kemarau, masyarakat Kalimantan kembali dihadapkan pada persoalan yang seolah tidak pernah selesai: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika api muncul, perhatian biasanya tertuju pada bagaimana kebakaran segera dipadamkan. Namun, ada persoalan yang sering kali luput dari perhatian, yakni kabut asap yang kemudian menyebar dan mengganggu kehidupan masyarakat.

di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tidak terlepas dari persoalan tersebut. Sebagai wilayah dengan aktivitas masyarakat yang cukup beragam, mulai dari pendidikan, perdagangan, pemerintahan hingga kegiatan sosial, kondisi lingkungan yang aman dan nyaman tentu menjadi kebutuhan bersama.

Ketika kabut asap muncul, aktivitas masyarakat ikut berubah. Anak-anak menjadi lebih terbatas untuk bermain di luar rumah, kegiatan olahraga dapat terganggu, sementara masyarakat yang bekerja di luar ruangan tetap harus menjalankan aktivitasnya.

Artinya, kabut asap bukan sekadar persoalan udara. Kabut asap telah menjadi persoalan kehidupan masyarakat karena memengaruhi cara seseorang belajar, bekerja, bergerak dan berinteraksi.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika masyarakat mulai terbiasa dengan kondisi tersebut. Karena kabut asap sering muncul, perlahan muncul anggapan bahwa keadaan itu merupakan sesuatu yang wajar dan akan hilang dengan sendirinya ketika hujan turun.

Menurut saya, pola pikir seperti inilah yang perlu diubah.

Sesuatu yang terjadi berulang kali bukan berarti sesuatu tersebut harus dianggap normal. Jika setiap tahun masyarakat hanya menunggu hujan untuk mengakhiri persoalan kabut asap, maka kita sebenarnya hanya sedang menunggu masalah yang sama datang kembali.

Karhutla tidak boleh dilihat hanya sebagai peristiwa kebakaran. Api hanyalah awal dari persoalan yang lebih panjang. Setelah kebakaran terjadi, muncul asap, kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas masyarakat. Karena itu, pembahasan mengenai karhutla seharusnya tidak berhenti pada bagaimana memadamkan api.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kebakaran terus terjadi? Bagaimana mencegahnya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk ikut mencegahnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena persoalan karhutla tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu pihak.

Pemerintah memang memiliki peran besar dalam pencegahan, pengawasan, penanganan dan edukasi. Namun, masyarakat juga tidak bisa hanya menunggu pemerintah bertindak.

Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Tidak membakar lahan sembarangan, tidak membakar sampah ketika kondisi lingkungan sedang kering, menjaga lingkungan sekitar dan segera melaporkan apabila terjadi kebakaran merupakan langkah yang dapat dilakukan bersama.

Di sisi lain, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab sosial. Mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika persoalan lingkungan terjadi di tengah masyarakat.

Mahasiswa dapat mengambil peran melalui edukasi, diskusi, kampanye lingkungan, penelitian maupun menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan.

Lebih dari itu, mahasiswa perlu membangun cara berpikir yang kritis. Jangan hanya bertanya bagaimana api dipadamkan, tetapi juga berani mempertanyakan mengapa kebakaran terus berulang dan apa yang harus dilakukan agar persoalan tersebut tidak menjadi siklus tahunan.

Karena itu, sudah saatnya cara pandang terhadap karhutla diubah. Kita tidak boleh terus-menerus berada pada posisi menunggu kebakaran terjadi, kemudian bergerak setelah api membesar dan asap mulai mengganggu masyarakat.

Pencegahan Harus Menjadi Perhatian Utama

Barabai membutuhkan kesadaran bersama bahwa lingkungan yang aman dan nyaman bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan dan pengawasan. Masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Mahasiswa dan generasi muda juga harus ikut membangun kesadaran serta keberanian untuk menyuarakan persoalan lingkungan.

Kabut asap mungkin akan hilang ketika hujan turun. Namun, persoalan yang menyebabkan karhutla tidak akan hilang hanya dengan datangnya hujan.

Jika kita terus menganggap kabut asap sebagai sesuatu yang biasa, maka kita juga sedang membiasakan diri hidup dengan sebuah persoalan yang seharusnya dapat dicegah.

Karhutla bukan sekadar tentang hutan dan lahan yang terbakar. Pada akhirnya, ini adalah tentang bagaimana kita menjaga ruang hidup bersama.

Dan sudah waktunya kita berhenti menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.(***)


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال