![]() |
| FASILITAS: Air purifier, salah satu fasilitas pendukung yang ada di Rumah Aman Asap Pustu Kelurahan Landasan Ulin Selatan - Foto Dok Istimewa |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berdampak terhadap aktivitas warga di Banjarbaru. Selain penggunaan masker, masyarakat membutuhkan ruang dengan kondisi udara yang lebih terlindungi, terutama kelompok rentan.
Kondisi tersebut mendorong hadirnya Rumah Aman Asap di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru.
Rumah Aman Asap disiapkan sebagai tempat perlindungan sementara bagi warga yang terdampak paparan asap. Fasilitas ini terutama ditujukan bagi kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Di lokasi tersebut tersedia sejumlah fasilitas pendukung, di antaranya air purifier, kipas, dan masker.
Keberadaan Rumah Aman Asap diharapkan dapat membantu mengurangi paparan langsung asap ketika kondisi udara di lingkungan warga memburuk. Selain ruang perlindungan, lokasi ini juga terhubung dengan dukungan layanan kesehatan dasar.
Rumah Aman Asap merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas Liang Anggang bersama Dauri Bintang selaku PFA Specialist, Ranu Welum Foundation, Posko Koalisi Bencana Ekologis Kalimantan Selatan, serta relawan KSATRIA Kalsel.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dr. Ani Rusmila mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan dampak asap karhutla.
“Kami sangat mengapresiasi semua pihak yang telah peduli terhadap penanggulangan dampak asap karhutla. Terhadap kesehatan masyarakat di wilayah terdampak, sejatinya kolaborasi dan sinergi semua pihak akan sangat berarti dalam upaya penanggulangan ini,” ujarnya.
Menurut Ani, perlindungan kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama ketika asap mulai mengganggu kondisi lingkungan dan aktivitas warga.
Rumah Aman Asap menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak asap. Sementara penanganan karhutla tetap membutuhkan upaya pengendalian dan pemadaman di lokasi kebakaran.
Penulis: P. Silitonga
