Harga Minyak Dunia Melonjak, Harga Pertamax Berpotensi Naik ke Rp18-20 Ribu per Liter

Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax - Foto tangkapan layar


BORNEOTREND.COM, JAKARTA – Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax kemungkinan bisa mengalami kenaikan di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Kabar tak sedap ini disampaikan Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyusul kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

"Harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," beber Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Eko menilai situasi saat ini jauh lebih pelik dibandingkan konflik Rusia-Ukraina sebelumnya. Menurutnya, harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau mengalami penurunan signifikan akibat perang di Timur Tengah.

"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko.

Sebelumnya, perang yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Kamis, harga minyak bahkan sempat menembus US$108 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026.

Harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel pada pekan ini seiring meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka lebih panjang. Para pedagang kemudian memborong minyak mentah untuk mengantisipasi gangguan pasokan, yang pada akhirnya turut mendorong harga komoditas energi tersebut semakin tinggi.

Sumber: Warta Ekonomi


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال