Tak Lagi Disamaratakan Rp 6 Juta per Hari, BGN Godok Skema Insentif Adil untuk SPPG

Ilustrasi Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat insentif Rp 6 juta per hari – Foto Kompas.com/AI


BORNEOTREND.COM, JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) berencana mengubah besaran insentif Rp 6 juta per hari kepada Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).  Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, insentif baru yang sedang digodok tidak akan sama Rp 6 juta per hari untuk semua SPPG, melainkan berbeda-beda sesuai jangkauan SPPG.

"Kami nanti akan membuat skema yang insentif yang lebih adil. Ya, misalnya gini, kan nggak nggak juga dong SPPG yang 200 meter yang cuma melayani 500 eh katakanlah 1.000 orang insentifnya sama. Nggak juga dong yang 300 meter yang atau 400, ada bahkan yang 500 yang lebih bagus kok disamaratakan Rp 6 juta? Kan nggak fair. Nah, itu skema-skema itu yang akan kami lakukan perbaikan," ujar Agustina di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026) malam.

Dengan perubahan insentif itu, dia mengungkapkan akan ada perubahan waktu balik modal bagi SPPG, bisa lebih cepat ataupun lebih lambat. Berdasarkan perhitungannya, dengan insentif Rp 6 juta per hari, setiap SPPG bisa balik modal sekitar dua tahun. Dengan asumsi modal per SPPG Rp 3,5 miliar dan menyalurkan makanan selama 313 hari per tahun.

"Rp 6 juta per hari, harinya saja diubah dengan dua kali SK, yang terakhir tuh 313. Artinya, hitungannya, Rp 6 juta per hari dikali 313 (hari) itu Rp 1,87 miliar. Akhirnya kalau dia investasi Rp 3,5 miliar mendirikan satu SPPG, dua tahun kan selesai tuh investasinya itu sudah balik," lanjut Agustina.

Dia juga mengatakan lokasi SPPG akan dievaluasi besar-besaran yang berorientasi penerima. Selama ini, orientasi SPPG hanya melihat di satu daerah ada berapa banyak potensi penerima makan gratis, tidak melihat apakah penerima tersebut benar-benar membutuhkan atau tidak.

"Jadi, katakanlah untuk mendirikan SPPG, kan tahu ya ceritanya ya tentang SPPG? Semua siapa yang punya titik, kemudian daftar titik, ah lalu di situlah calon mitranya itu yang mencari calon penerima manfaat di sekitarnya, sehingga tidak ada tuh perhatian terhadap, 'ini daerah stunting bukan sih?', daerah yang apa perlu disasar nggak sih karena ada kondisi tertentu? Nggak. Mereka pokoknya ada SD sekitarnya, ada SMP sekitarnya, mau gitu. Apalagi ketika titik-titik SPPG itu sudah terlalu banyak, malah ada di lapangan yang berebut. Itu yang sekarang sedang kami sisir lagi datanya," papar Agustina.

Sumber: detik.com

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال