Masyarakat Desa Sidomulyo Gelar Tasyakuran Peguyuban Tayub “Lestari Budoyo”, Dorong Pelestarian Budaya Lokal

TASYAKURAN: Warga Desa Sidomulyo menggelar tasyakuran Peguyuban Seni Tayub “Lestari Budoyo” - Foto Jack


BORNEOTREND.COM, KALSEL - Untuk melestarikan budaya lokal langen tayub yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman, masyarakat Desa Sidomulyo menggelar tasyakuran Peguyuban Seni Tayub “Lestari Budoyo”.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman GOR SSC Sidomulyo Sport Center, Blok A2, Kecamatan Mantewe, Sabtu (30/1/2026) malam.

Budaya Tayub menjadi perhatian penting dalam kajian budaya lokal, khususnya dalam pergeseran dari langen tayub lama menuju langen tayub baru yang lebih tertata dan adaptif terhadap perubahan sosial masyarakat. Tayub sendiri merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengedepankan unsur keindahan, keserasian gerak, serta kemampuan penari dalam menjiwai tarian yang dibawakan.

Kesenian Tayub dikenal sebagai seni pertunjukan rakyat yang telah ada sejak masa Kerajaan Singosari. Meski mengalami pasang surut seiring perkembangan zaman, Tayub hingga kini masih kerap dijumpai dalam berbagai acara masyarakat seperti hajatan, khitanan, pernikahan, hingga sedekah bumi. Dalam pertunjukannya, Tayub menampilkan tari pergaulan berpasangan antara penari perempuan (ledhek) dan penari laki-laki (penayub).

TARI TAYUB: Para penari perempuan (ledhek) dan penari laki-laki (penayub) membawakan tari tayub - Foto Jack 


Perubahan stigma masyarakat terhadap budaya Tayub turut memengaruhi dinamika budaya lokal. Namun demikian, langen tayub dinilai tetap berperan penting dalam memperkuat identitas budaya dan relasi sosial masyarakat Desa Sidomulyo dan desa tetangga, Maju Mulyo. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai masyarakat, kemajuan teknologi, perubahan sosial, serta keterbukaan terhadap inovasi, sehingga kesenian Tayub tetap relevan dan mampu memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Kepala Desa Sidomulyo, Sugeng, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ke depan Peguyuban Tayub Lestari Budoyo akan diberikan legalitas resmi berupa Surat Keputusan (SK) dan didaftarkan ke Kesbangpol.

“Ke depan paguyuban ini akan kita pikirkan SK-nya agar resmi dan didaftarkan ke Kesbangpol. Semua kelembagaan, ormas, maupun seni budaya nanti bermuara ke Kesbangpol, sehingga memiliki surat keterangan terdaftar,” ujar Sugeng.

Ia menambahkan, pengembangan seni budaya menjadi salah satu perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, sejalan dengan komitmen bupati dalam memajukan kebudayaan daerah.

“Mari kita sama-sama berkomitmen melestarikan paguyuban ini, khususnya seni budaya Tayub. Jangan sampai timbul rasa paling bisa sendiri, karena seni budaya ini milik bersama,” tegasnya.

Sugeng juga mengungkapkan bahwa di Desa Sidomulyo telah berkembang berbagai seni budaya lainnya seperti wayang kulit dan Reog Ponorogo. Munculnya kembali seni Tayub diharapkan menjadi penguat kerukunan sosial serta menjadi “obat hati” bagi para sesepuh dan pecinta seni tradisi.

Sementara itu, Sarjomo, pelatih Tayub yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, menjelaskan bahwa dalam gelaran malam tersebut melibatkan sebanyak 40 penari, terdiri dari 36 penayub dan 4 ledhek.

“Harapan kami ke depan seni Tayub ini semakin lestari dan regenerasinya semakin berkembang. Gerakan yang dulu belum teratur, sekarang sudah diatur dalam versi baru, dan kekompakan sudah mencapai sekitar 80 persen,” jelasnya.

Acara tasyakuran tersebut turut dihadiri Anggota DPRD dari Fraksi Partai Gerindra Sayono, perwakilan Disporapar Tanah Bumbu, perwakilan Kecamatan Mantewe, Kepala Desa Sari Mulya Siti Muntamah, Kepala Desa Maju Mulyo Maryadi, para sesepuh masyarakat, tokoh pemuda, serta undangan lainnya.

Penulis: Jack

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال