![]() |
PROYEK BANDARA: PT Hutama Karya (Persero) telah menyelesaikan sisi darat proyek Bandara Ibu Kota Nusantara (IKN), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) - Foto Kompas.com/Dok. PT Hutama Karya (Persero) |
BORNEOTREND.COM, KALTIM - Di balik kemegahan arsitekturnya, Bandara Internasional Nusantara menyimpan spesifikasi teknis kelas dunia. Mengadopsi standar terbaru International Civil Aviation Organization (ICAO), bandara ini telah menggunakan sistem Pavement Classification Rating (PCR) untuk memastikan landasannya mampu menampung pesawat berbadan lebar (wide-body) dari seluruh dunia.
Jika arsitektur terminal adalah wajahnya, maka landasan pacu atau runway adalah otot dan tulangnya.
Aspek "otot" ini sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati penerbangan, terutama dengan adanya transisi regulasi global yang mengatur klasifikasi kekuatan perkerasan landasan.
Mungkin kita masih terbiasa dengan istilah Pavement Classification Number (PCN). Namun, dunia penerbangan sipil internasional kini telah bergeser.
Mengikuti mandat terbaru dari International Civil Aviation Organization (ICAO), sistem lama tersebut mulai ditinggalkan dan digantikan oleh sistem yang lebih presisi, yakni Pavement Classification Rating (PCR) tepat November 2024 lalu.
Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan, menjelaskan, Bandara Internasional Nusantara telah mengadopsi standar mutakhir ini sejak jauh hari untuk menjamin kesiapan operasional pesawat berbadan lebar (wide-body) di masa depan.
“Perlu dipahami bahwa sekarang regulasi ICAO sudah berubah. Semula PCN, sekarang istilahnya menjadi PCR. Untuk Bandara Internasional Nusantara sendiri, data kekuatan landasan telah kami rilis secara resmi untuk memastikan transparansi dan standar keselamatan global,” ujar Imam dikutip dari Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Data yang dipublikasikan per 12 Juni 2025 berbarengan dengan sertifikat bandara tersebut, menunjukkan angka-angka yang cukup impresif dan mencerminkan rigiditas yang direncanakan untuk jangka panjang.
Untuk segmen Runway dan Taxiway, angka yang dipublikasikan adalah 790 F/C/X/T. Sementara itu, bagian Apron, tempat pesawat parkir dan melakukan bongkar muat, memiliki kekuatan yang lebih tinggi lagi, yakni 1180 R/C/X/T.
Bagi orang awam, deretan angka dan huruf ini mungkin terlihat seperti kode rahasia. Namun, bagi para insinyur dan pilot, ini adalah jaminan keamanan.
Mari kita bedah sedikit maknanya. Angka 790 pada landasan pacu menunjukkan kapasitas beban yang sangat besar, yang memungkinkan bandara ini melayani pesawat-pesawat seberat Boeing 777 atau Airbus A350 dengan muatan penuh tanpa risiko kerusakan pada struktur perkerasan.
Kode F/C/X/T memberikan informasi lebih spesifik. F menunjukkan perkerasan lentur (flexible), sementara C berarti sub-grade atau tanah dasar yang memiliki kekuatan kategori sedang.
Adapun X merujuk pada tekanan ban maksimum yang diperbolehkan (kategori sangat tinggi), dan T adalah metode penilaian teknis yang digunakan.
Sementara itu, angka 1180 pada Apron dengan kode R (Rigid) menunjukkan bahwa area parkir pesawat ini menggunakan perkerasan kaku atau beton.
Bandara Internasional Nusantara menggunakan PCR bukan sekadar urusan ganti istilah di atas kertas. Ini adalah pernyataan bahwa bandara ini siap mengelola infrastruktur udara dengan standar yang paling aktual.
Dengan dipublikasikannya data ini sejak pertengahan 2025, maskapai internasional kini memiliki parameter yang jelas untuk memasukkan bandara berkode WALK ini ke dalam rute penerbangan jarak jauh mereka.
Angka-angka ini menjadi fondasi akses konektivitas IKN ke seluruh dunia. Di atas beton dan aspal dengan peringkat PCR tinggi inilah, gerbang utama menuju pusat pemerintahan baru Indonesia resmi berdiri tegak.
Menurut Imam, saat ini, Bandara Internasional Nusantara masih berstatus khusus, melayani charter flight serta pesawat pemerintah dan TNI AU. Namun, fokus besar kini adalah pada transisi menuju status komersial penuh pada 2026.
Untuk diketahui, Bandara Internasional Nusantara dibangun dengan spesifikasi teknis yang melampaui bandara-bandara regional di sekitarnya, menegaskan perannya sebagai gerbang utama ibu kota baru.
Dimensi landasan runway-nya dirancang 3.000 meter kali 45 meter, menjadikannya bersifat ultimate.
Panjang runway tersebut mampu mengakomodasi pesawat terbesar di dunia, seperti Boeing Triple Seven (B-777) atau bahkan Airbus A380.
Bandara ini juga dapat menampung 420 orang per jam di fasilitas terminal, atau setara dengan 1,6 juta penumpang per tahun.
Sementara kapasitas penerbangan mampu menampung 19 pergerakan pesawat per jam. Imam memastikan bahwa Bandara Internasional Nusantara adalah yang paling siap di Kalimantan untuk penerbangan long-range, membuka potensi koneksi langsung internasional yang selama ini terpusat di Jawa.
Meskipun secara fisik sudah ultimate (khususnya sisi udara), Bandara International Nusantara akan terus mengalami penyempurnaan di sisi darat. Termasuk hunian pegawai, lanskap, kantor karantina, dan imigrasi, sejalan dengan target IKN sebagai kota politik pada tahun 2028.
Adapun operasional saat ini berada di bawah pengelolaan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bukan BUMN seperti Angkasa Pura.
"Statusnya masih khusus seraya menunggu peraturan perundang-undangan untuk berubah menjadi komersial penuh pada tahun 2026," jelas Imam.
Kesiapan fasilitas bandara ini membuka peluang besar untuk dijadikan Embarkasi Haji pada tahun ini.
"Alhamdulillah, kita sudah siap fasilitas sudah siap tinggal dukungan pemerintah. Kalau misalnya dipindahkan ke sini kita sudah siap secara fasilitas, tapi itu kan kebijakan," imbuhnya.
Kehadiran Bandara Internasional Nusantara juga diharapkan mendukung konsep multiple airport di kawasan Kalimantan Timur, seperti balaya Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, atau Badanara Adi Soemarmo Solo, Bandara NYIA Yogyakarta, dan Bandara Ahmad Yani Semarang di Jawa Tengah, untuk saling mendukung pertumbuhan ekonomi dan mobilitas.
Sumber: Kompas.com
