Transformasi Pariwisata Kalsel Menjadi Penggerak Ekonomi Banua

WISATA UNGGULAN: Transformasi wisata Kalsel di era kepemimpinan H Muhidin diyakini bisa mendorong penggerak baru ekonomi yang ada di Banua. Foto Dok: Rilis Diskominfo Kalsel


BORNEOTREND.COM, KALSEL- Selama bertahun-tahun, kekayaan alam dan budaya Kalimantan Selatan (Kalsel) telah menjadi magnet bagi jutaan wisatawan. Dari bentang alam pegunungan Meratus yang kini berstatus UNESCO Global Geopark, wisata sungai yang menjadi identitas Banua, hingga kekayaan budaya, religi, dan kuliner, semuanya menjadi modal besar yang dimiliki daerah ini.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel kini melihat pariwisata dari perspektif yang lebih luas. Pariwisata tidak lagi diposisikan hanya untuk menarik kunjungan wisatawan, tetapi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, mendorong investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Setiap program pembangunan yang kita laksanakan harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Termasuk sektor pariwisata yang harus mampu memberikan manfaat ekonomi nyata, membuka peluang usaha, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Banua," kata Gubernur Kalsel H. Muhidin, Rabu (29/7/2026) di Banjarbaru.


Arah baru tersebut sejalan dengan target pembangunan RPJMD Kalsel 2025-2029 yang menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi menuju target 8,1 persen pada 2029. Untuk mewujudkannya Pemprov Kalsel melalui Dinas Pariwisata menyusun peta jalan transformasi pariwisata daerah dengan melibatkan akademisi.

Langkah ini berangkat dari tantangan nyata yang dihadapi Kalsel. Pertumbuhan ekonomi Kalsel pada 2025 mencapapai 5,2 persen, tetapi kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah masih berada di kirasan 0,22 persen. Di sisi lain, potensi wisata Kalsel terus berkembang dan mampu menarik jutaan perjalanan wisatawan setiap tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan lagi mendatangkan wisatawan, melainkan bagaimana setiap kunjungan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Iwan Fitriady menyebut bahwa sektor pariwisata memiliki daya ungkit yang besar terhadap perekonomian daerah karena melibatkan berbagai sektor pendukung. Dengan kata lain, transformasi ini merupakan perubahan paradigma dalam pembangunan pariwisata.

"Sektor pariwisata bukan sekadar tentang kunjungan orang ke tempat wisata. Pariwisata adalah multi sektor yang memiliki daya ungkit luar biasa terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Setiap wisatawan yang datang akan menggerakkan sektor transportasi, penginapan, kuliner, hingga industri kreatif dan UMKM lokal kita," ujar Iwan.

Melalui semangat ini, tranformasi pariwisata Kalsel tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan destinasi wisata, tetapi sebagai upaya membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat. Ketika wisatawan datang dan tinggal lebih lama, manfaatknya tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi, tetapi juga pedagang, perajin, pelaku ekonomi kreatif, penyedia jasa transportasi, hingga masyarakat di desa-desa wisata. Dengan kata lain, ketika wisata berkembang, yang tumbuh bukan hanya destinasi, tetapi juga ekonomi Banua secara menyeluruh.

Mengubah Destinasi Pariwisata Menuju Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Keberhasilan pembangunan pariwisata kerap diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke suatu daerah. Semakin tinggi angka kunjungan, semakin dianggap berhasil pengembangan sektor tersebut. Namun, saat ini pemerintah menyadari bahwa tingginya mobilitas wisatawan belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan masyarakat, apabila wisatawan hanya singgah dalam waktu singkat dan belum banyak memanfaatkan produk maupun jasa lokal. Karena itu, pembangunan pariwisata diarahkan untuk meningkatkan kualitas kunjungan, bukan semata kualitas.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Iwan Fitriady, mengatakan bahwa transformasi yang sedang dilakukan bukan sekadar membangun objek wisata yang indah, tetapi menciptakan ekosistem ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

"Yang lebih penting adalah bagaimana setiap destinasi mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Ketika wisatawan datang, mereka menggunakan transportasi lokal, menginap di hotel, menikmati kuliner khas Banua, membeli produk UMKM, hingga memanfaatkan jasa pemandu wisata. Di situlah nilai ekonomi pariwisata tercipta," ujar Iwan.

Menurut Iwan, setiap kunjungan wisatawan harus mampu menghasilkan efek ganda bagi perekonomian daerah. Karena itu, pembangunan destinasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi diintegrasikan dengan pengembangan usaha masyarakat, penguatan desa wisata, serta peningkatan kualitas produk ekonomi kreatif agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan dan aktivitas selama berada di Kalsel.

Pendekatan tersebut juga menjadi dasar dalam pelaksanaan berbagai prioritas pariwisata tahun 2026. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama pemerintah kabupaten/ kota menyelaraskan program pengembangan destinasi, promosi, peningkatan kapasitas pelaku wisata, hingga penguatan ekonomi kreatif agar seluruh kebijakan berjalan dalam satu arah, yaitu menciptakan destinasi yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

"Pembangunan pariwisata harus dipandang sebagai pembangunan ekosistem ekonomi. Destinasi yang baik akan tumbuh bersama usaha masyarakat, ekonomi kreatif, investasi, dan pelayanan yang berkualitas. Karena itu, pengembangan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," kata Iwan.

Melalui upaya ini, Pemprov Kalsel berharap setiap destinasi wisata mampu berkembang menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru di Banua. Dengan demikian, pariwisata benar-benar menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Banua.

Geopark Meratus Dan Destinasi Unggulan Penggerak Ekonomi

Pemprov Kalsel menempatkan setiap destinasi sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang saling terhubung. Dengan pendekatan tersebut, setiap kawasan wisata diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Dalam strategi pembangunan pariwisata 2025-2029, Pemprov Kalsel memfokuskan pembangunan pada beberapa pengungkit utama, yakni Meratus UNESCO Global Geopark, destinasi prioritas, desa wisata, event unggulan, digital tourism, dan ekonomi kreatif. Seluruhnya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi sektor pariwisata melalui penguatan daya saing destinasi dan integrasi lintas sektor.

Pengakuan internasional Meratus UNESCO Global Geopark menjadi peluang besar untuk memperkenalkan Kalimantan Selatan kepada pasar wisata global. Namun, status UNESCO bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan wisata.

"Yang ingin kita capai adalah bagaimana Geopark Meratus selain mampu menarik kunjungan wisatawan, juga mampu mendorong berkembangnya UMKM, tumbuhnya desa wisata, serta meningkatnya investasi di sektor pariwisata," kata Iwan.

Karena itu, pengembangan Geopark Meratus tidak hanya berfokus pada konservasi kawasan, tetapi juga pada peningkatan aksesibilitas, promosi digital, penguatan sumber daya manusia, serta pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.

Pendekatan serupa juga diterapkan pada pengembangan klaster destinasi wisata, yang terbagi menjadi tiga, yaitu Banjarbakula sebagai gerbang utama dengan kekuatan wisata perkotaan dan mobilitas, Banua Anam yang mengandalkan Geopark Meratus, wisata alam, budaya, dan religi, serta Saijaan Bersujud yang dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari, pesisir, dan petualangan. Melalui pendekatan berbasis klaster, setiap wilayah didorong mengembangkan keunggulan masing-masing sekaligus saling terhubung, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi untuk dikunjungi.

Iwan menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari penguatan ekonomi kreatif, karena keduanya saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman wisata yang bernilai.

"Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati alam. Mereka juga mencari pengalaman, budaya, kuliner, hingga produk lokal yang khas. Karena itu, ekonomi kreatif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan pariwisata Banua," ujar Iwan.

Kolaborasi Membangun Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan

MENARI: Tarian tradisional asal Kalsel bisa turut serta membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Foto Dok: Rilis Diskominfo Kalsel


Keberhasilan transformasi pariwisata bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat dalam membangun ekosistem yang berdaya saing dan berkelanjutan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat sinergi lintas sektor melalui pengembangan sumber daya manusia, penguatan desa wisata, pemberdayaan UMKM, hingga promosi terintegrasi.

Digitalisasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi tersebut. Perubahan perilaku di era digital mendorong promosi destinasi dilakukan lebih luas melalui media sosial dan platform digital lainnya, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Upaya ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan daya saing destinasi dan produk lokal.

"Pembangunan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat," kata Iwan.

Iwan juga menilai masyarakat merupakan bagian penting dalam pembangunan pariwisata, mulai dari menjaga kelestarian lingkungan dan budaya, hingga menghadirkan produk serta layanan yang berkualitas bagi wisatawan.

"Kami ingin pariwisata tidak hanya menghadirkan lebih banyak wisatawan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal itu hanya dapat terwujud melalui kolaborasi yang kuat, didukung digitalisasi dan partisipasi aktif masyarakat," kata Iwan.(rls)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال