BORNEOTREND.COM, KALSEL- Kalimantan Selatan (Kalsel) siap mewujudkan pendidikan yang memadukan nilai Qur’ani, penguasaan sains dan teknologi, kepemimpinan, serta kemandirian ekonomi melalui Pembangunan Pesantren Modern Terpadu.
Menjawab tantangan besar untuk menyiapkan generasi muda yang kompeten, mandiri, dan mampu bersaing di tengah perubahan zaman, pendidikan tidak cukup hanya mengantarkan anak muda menyelesaikan sekolah. Lebih dari itu, pendidikan harus membekali mereka dengan keterampilan, karakter, dan daya adaptasi untuk menghadapi dunia kerja sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Gubernur Kalsel H. Muhidin menempatkan pembangunan Pesantren Modern Terpadu sebagai salah satu janji kampanyenya. Gagasan ini membawa misi penting untuk membangun sumber daya manusia unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akar spiritual, akhlak, dan kearifan lokal Banua.
Untuk memastikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai komitmen politik, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan menyiapkan landasan ilmiah bagi transformasi pesantren melalui riset dan rekomendasi kebijakan yang terukur.
Bonus Demografi, Tantangan Kualitas SDM
Kepala BRIDA Kalsel, Thaufik Hidayat, menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia, khususnya pemuda, merupakan fondasi pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikannya dalam Forum Konsultasi Publik Pemerintah Provinsi Kalsel Tahun 2027, selasa (10/2/2026) di Aula Bappeda Kalsel.
Data yang dipaparkan menunjukkan, pemuda berusia 16–30 tahun mencapai 25,16 persen dari total penduduk Kalsel. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan. Rata-rata pemuda yang tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan atau Not in Education, Employment, and Training (NEET) mencapai 21,17 persen. Tingkat pengangguran pemuda tercatat 10,89 persen.
“Artinya satu dari empat penduduk Kalimantan Selatan adalah pemuda. Ini merupakan potensi besar yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, dan kesiapan memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Situasi ini semakin menegaskan perlunya diversifikasi ekonomi yang ditopang SDM berkualitas dan inovasi, terutama di tengah perlambatan sektor pertambangan. Pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang dan membangun kemandirian.
Meramu Keunggulan Pesantren Dan Pendidikan Modern
Melalui kajian pada 2025 bersama Universitas Lambung Mangkurat, UIN Antasari, dan Universitas Islam Kalimantan, BRIDA Kalsel membandingkan sepuluh pesantren dan sekolah unggulan di dalam maupun luar provinsi.
Hasil kajian menunjukkan, pesantren tradisional memiliki kekuatan pada pendidikan agama, pembentukan akhlak, penguasaan kitab kuning, tahfiz, dan kultur asrama. Namun, integrasi sains dan teknologi, literasi digital, kewirausahaan, serta pembinaan jasmani dan kepemimpinan masih perlu diperkuat.
Sebaliknya, sekolah unggulan seperti SMA Banua memperlihatkan kekuatan dalam sains, riset, dan budaya akademik. Praktik dari sejumlah pesantren modern nasional juga memberikan pelajaran tentang tata kelola profesional, penguasaan bahasa asing, pembelajaran integratif, dan pengembangan unit usaha.
Temuan ini menjadi dasar pengembangan model Pesantren Modern Terpadu, yakni model hibrida yang menyerap praktik terbaik tanpa menghilangkan identitas keislaman dan kearifan lokal Kalsel.
Empat Pilar Pembentukan Generasi Unggul
Pembangunan Pesantren Modern Terpadu bertumpu pada empat pilar yang saling melengkapi.
Pertama, keagamaan (diniyyah) melalui penguatan Al-Qur’an, tafaqquh fiddin, turats, ibadah, adab, dan akhlak. Kedua, akademik modern, mencakup sains dan teknologi, STEM, literasi digital, pemrograman, riset, serta pembelajaran berbasis proyek.
Ketiga, kesamaptaan jasmani dan kepemimpinan, melalui pembinaan kebugaran, kesehatan, disiplin, dan tanggung jawab. Keempat, kewirausahaan dan kemandirian ekonomi, dengan mendorong koperasi, agribisnis, unit usaha pesantren, serta kewirausahaan digital.
Keempat pilar tersebut dirancang untuk melahirkan santri yang kuat secara spiritual, cakap secara intelektual, sehat secara fisik, siap memimpin, dan mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuatnya dengan kompetensi yang dibutuhkan masa depan.
Uji Model Sebelum Investasi Besar
BRIDA merekomendasikan pengujian model melalui dua prototipe, yakni di SMA Banua Kalsel dan Pondok Pesantren Rakha Amuntai. SMA Banua diarahkan memperkuat pembinaan diniyyah, sedangkan Rakha Amuntai mengembangkan integrasi sains dan teknologi dengan tetap menjaga tradisi salafiyah.
Pengujian selama dua hingga tiga tahun akademik diperlukan untuk mengevaluasi kurikulum, kualitas pembelajaran, akhlak, kemampuan Qur’ani, kompetensi sains dan teknologi, kebugaran, kewirausahaan, serta capaian pendidikan lanjutan.
Langkah ini penting mengingat kajian memperkirakan kebutuhan lahan 15–20 hektare dan biaya pembangunan Rp300–350 miliar untuk kapasitas sekitar 1.000 santri mukim. Pengujian awal dapat membantu menyempurnakan model sekaligus mengurangi risiko investasi yang tidak sesuai kebutuhan.
Dari Janji Politik Menjadi Warisan Pendidikan
Policy brief BRIDA mengusulkan peta jalan transformasi menuju Pesantren Modern Terpadu 2035. Tahap awal mencakup penetapan prototipe dan penyusunan blueprint, dilanjutkan penguatan kurikulum, perluasan penerapan model, serta pengembangan kemandirian ekonomi pesantren.
Pelaksanaannya membutuhkan dukungan regulasi, tata kelola profesional, pendidik berkualitas, dan pembiayaan berkelanjutan. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pengelola pesantren, masyarakat, dan dunia usaha perlu membangun kolaborasi. Sumber pendanaan dapat dikembangkan melalui APBD, wakaf produktif, tanggung jawab sosial perusahaan, dan filantropi Islam sesuai ketentuan yang berlaku.
Keberhasilan program ini tidak semata-mata diukur dari kemegahan kampus atau besarnya anggaran, tetapi dari kualitas santri yang dihasilkan dan manfaatnya bagi masyarakat.
Riset BRIDA telah menyediakan pijakan awal. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan rekomendasi menjadi kebijakan, menguji model secara konsisten, dan memastikan setiap tahap berjalan akuntabel.
Pesantren Modern Terpadu akan menemukan makna sejatinya ketika mampu melahirkan generasi Banua yang beriman, berakhlak, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mandiri menghadapi masa depan. Inilah investasi pendidikan jangka panjang yang dapat mengubah janji pembangunan menjadi warisan nyata bagi Kalsel.(rls)