![]() |
PEMBALIKAN TANAH: Mobil traktor dikerahkan untuk melakukan pembalikan tanah di Kabupaten Banjar, Selasa (20/10/2026). Foto: MC Kalsel |
BORNEOTREND.COM, KALSEL - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melakukan pembalikan tanah di lahan pertanian. Upaya ini dilakukan untuk mempercepat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga Senin (19/10/2026), realisasi kegiatan pembalikan tanah di tiga kecamatan di Kabupaten Banjar mencapai 743 hektare atau sekitar 86 persen dari total sasaran 865 hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel, Syamsir Rahman melalui Sekretaris Dinas, Saptono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk mencegah praktik pembakaran lahan pertanian yang berpotensi memicu karhutla.
“Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan diminta berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar terkait upaya pencegahan pembakaran lahan, khususnya lahan pertanian,” ujar Saptono, Selasa (20/10/2026).
Saptono menjelaskan, berdasarkan identifikasi awal, lahan yang menjadi perhatian berada di Kecamatan Gambut, Kertak Hanyar, dan Sungai Tabuk. Dari perkiraan awal sekitar 8.500 hektare, hasil verifikasi lanjutan oleh penyuluh pertanian dan Brigade Pangan di lapangan menetapkan sasaran penanganan sekitar 865 hektare.
Dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat, pemerintah daerah mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mengejar target tersebut. Namun, pelaksanaan di lapangan menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung operasional kegiatan.
Meski demikian, progres pembalikan tanah terus meningkat. Dari total sasaran 865 hektare, sebanyak 743 hektare telah ditangani. Dengan tambahan kuota BBM sekitar 1.500, DPKP Kalsel optimistis sisa pekerjaan sekitar 114 hektare dapat diselesaikan sesuai target.
“Dengan segala keterbatasan, khususnya BBM, kita tetap optimistis target tersebut bisa diselesaikan,” tegas Saptono.
Selain menjadi langkah pencegahan karhutla, pembalikan tanah juga ditujukan untuk membantu petani mempersiapkan lahan menghadapi musim hujan dan masa tanam mendatang. “Lahan yang telah diolah diharapkan tidak lagi memerlukan pembakaran untuk membersihkan sisa tanaman maupun mempersiapkan area tanam,” ungkapnya.
Menurut Saptono, kondisi lahan yang sudah dibalik akan mempermudah petani melanjutkan pengolahan tanah. Bahkan, pada lahan dengan kondisi yang mendukung, petani berpeluang langsung melakukan penanaman setelah persiapan lanjutan.
DPKP Kalsel juga mengoptimalkan peran penyuluh pertanian dan Brigade Pangan untuk memberikan edukasi kepada petani agar tidak membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar.
“Pendampingan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan upaya pencegahan tidak berhenti pada kegiatan pembalikan tanah, tetapi berlanjut pada perubahan perilaku pengelolaan lahan,” katanya.
Pemerintah berharap langkah ini dapat menekan risiko kebakaran di kawasan pertanian sekaligus mengurangi potensi kabut asap yang berdampak terhadap masyarakat, khususnya di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin.
“Melalui percepatan pembalikan tanah yang dibarengi edukasi dan pendampingan petani, Pemprov Kalsel mendorong pencegahan karhutla berjalan seiring dengan perlindungan lahan produktif dan kesiapan petani menghadapi musim tanam berikutnya,” pungkasnya.(rls)
