Pemkab Gunung Mas Mulai Intervensi Serentak Percepat Penurunan Stunting

 

HADIR: Pemkab Gunung Mas resmi memulai Kick Off Intervensi Serentak Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting 2026, jumat (7/8/2026) di Taman Kota Kuala Kurun - Foto Dok Congki Peradi


BORNEOTREND.COM, KALTENG- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), resmi memulai Kick Off Intervensi Serentak Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting 2026, jumat (7/8/2026) di Taman Kota Kuala Kurun.

Bupati Gunung Mas Jaya S Monong mengatakan, program ini mencakup pendataan, penimbangan, pengukuran, edukasi, serta intervensi gizi bagi seluruh ibu hamil dan balita.

Menurutnya, posyandu menjadi ujung tombak pelaksanaan program, mulai dari pemantauan pertumbuhan balita, pemberian intervensi gizi, pencatatan data secara real time, edukasi pencegahan stunting, hingga skrining ibu hamil dan calon pengantin.

"Selama Agustus, seluruh balita juga mendapatkan vitamin A dan obat cacing sesuai standar pelayanan kesehatan," tegasnya.


Jaya menegaskan, hasil penimbangan dan pengukuran harus dicatat dengan target 100 persen sasaran riil di lapangan dan diinput ke aplikasi pada hari yang sama.

Di tengah efisiensi anggaran, Jaya meminta seluruh perangkat daerah hingga desa dan kelurahan tetap berinovasi dan tidak menurunkan kualitas pelayanan. Ketersediaan alat antropometri terstandar serta keterampilan kader posyandu juga harus diperkuat agar hasil pengukuran akurat.

Jaya juga menambahkan, penanganan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor. Camat, lurah, kepala desa, kepala puskesmas, penyuluh keluarga berencana, dan kader posyandu diminta aktif memastikan ibu hamil serta balita yang mengalami masalah gizi segera mendapatkan penanganan dan pendampingan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Gunung Mas Yantrio Aulia menyampaikan, prevalensi stunting di Gunung Mas pada 2024 tercatat 14,1 persen dan diharapkan terus menurun melalui intervensi serentak.

"Kehadiran balita di posyandu menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Karena itu, seluruh ibu hamil dan balita didorong rutin datang ke posyandu agar cakupan pelayanan mencapai 100 persen," tambahnya.

Berdasarkan data semester I Juni 2026, jumlah riil balita usia 0–59 bulan di Gunung Mas tercatat 8.062 balita. Angka tersebut berbeda dengan data proyeksi Kementerian Kesehatan yang mencapai 14.325 balita.

Perbedaan data tersebut masih dalam proses sinkronisasi oleh Dinas Kesehatan agar sasaran intervensi sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

"Saya berharap seluruh camat, kepala puskesmas, kader posyandu, dan pemangku kepentingan di setiap kecamatan aktif mendukung program tersebut sehingga intervensi berjalan optimal dan mampu mempercepat penurunan stunting di Gunung Mas," tukasnya.

Penulis: Congki Peradi

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال